WAISAK URBAN BUNDARAN HI JAKARTA PUSAT – Tetap Sadar di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Home » Artikel » WAISAK URBAN BUNDARAN HI JAKARTA PUSAT – Tetap Sadar di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Dilihat

Dilihat : 39 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 139
  • 571
  • 278,666
Pic 2673

Oleh: Jo Priastana

 

“Suatu hari nanti, di tempat ini akan berdiri sebuah kota spiritual;

 tempat di mana tidak ada seorang pun yang kelaparan, dan semua orang

Hidup dalam Kesadaran, Kedamaian dan Kebijaksanaan Tertinggi”

(Bhaktivedanta Swami Prabhupada, 1896-1977, Guru Spiritual)

 

Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta mengatakan kebesaran sebuah kota besar tak hanya diukur dari megahnya infrastruktur dan gedung pencakar langit, namun juga ditentukan oleh kelapangan hati warganya dalam menerima perbedaan di tengah keragaman. Hal itu disampaikan pada perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhis Era di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026). Perayaan Waisak ini juga dihadiri oleh Dirjen Bimas Buddha, Drs. Supriyadi Adinata, Anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, dan Bhikkhu Dhammasubho, pemuka lintas agama dan masyarakat Jakarta.

Pesan pada perayaan Waisak di kota besar Jakarta yang digelar di ruang publik itu jelas dimaksudkan untuk memperkuat toleransi di Ibu Kota. “Sebab kota yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung di kawasan Bundaran HI, tetapi juga dari lapangnya hati kita menerima setiap anak bangsa dengan penuh rasa hormat, penuh ketulusan, dan penuh rasa persaudaraan di antara kita.” kata Rano. “Jakarta itu bukan kota yang hanya terang oleh lampu, tetapi juga terang karena desir doa semua warganya.” tuturnya.

Bang Doel anak Betawi itu menambahkan, “Cahaya yang menghiasi Bundaran HI menjadi simbol harapan agar Jakarta tetap menjadi kota yang toleran, adil, dan menentramkan seluruh warganya.” Ia   berharap perayaan Waisak tak hanya menghadirkan pengalaman visual bagi warga, tetapi juga menumbuhkan rasa damai dan semangat hidup berdampingan. Sambutan Rano Karno ini kiranya menyiratkan tentang peran spiritual agama dan memiliki relevansi bagi kehidupan kota besar Jakarta untuk bahagia warganya.

 

Masyarakat Urban Kota Jakarta

Perayaan Waisak yang bertajuk “Illumination of Jakarta: Glow of Peace” digelar sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2026 di kawasan Bundaran HI Jakarta Pusat juga menghadirkan instalasi cahaya, pertunjukan seni budaya anak-anak muda Buddhis, diantaranya penampilan grup band mahasiswa Institut Nalanda, dan kegiatan refleksi kebersamaan di ruang publik.

Perayaan Waisak yang berlangsung di jalan raya pusat kota itu dirayakan oleh komunitas Buddhis juga dinikmati oleh segala kalangan masyarakat urban kota, sehingga bisa dikatakan juga sebagai “Urban Waisak.” Kota Jakarta terbentang ratusan kilometer di pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi dan populasi terbesar di planet ini.

Jakarta, Indonesia adalah konglomerasi perkotaaan terbesar di dunia, rumah bagi lebih dari 39 juta orang di seluruh wilayah metropolitannya yang terus berkembang. Kota besar ini terdiri dari masyarakat urban, masyarakat kota yang beragam, plural dalam segala bidang, seperti: agama, pekerjaan, status sosial, suku bangsa, golongan dan lain sebagainya.

Jakarta adalah melting pot, ruang pertemuan segala perbedaan, tumbuh dalam keragaman, terdiri dari masyarakat urban. Kata urban berasal dari bahasa Latin urbanus, yang berarti “berkaitan dengan kota.” Dalam penggunaan modern, kata Urban ini tidak hanya menunjuk lokasi fisik di kota, tetapi juga gaya hidup, budaya, cara berpikir, dan pengalaman yang lahir dari kehidupan perkotaan.

Karena itu, ketika kata urban dilekatkan pada sesuatu, maknanya mencerminkan keterhubungan dengan kehidupan kota, mencerminkan budaya masyarakat perkotaan, berkaitan dengan persoalan, kreativitas, atau pengalaman khas kota modern.

Contohnya, ada festival urban, pertanian urban, legenda urban, spiritualitas urban. Festival urban merupakan festival yang menampilkan budaya kota, seperti musik kontemporer, seni jalanan (street art), fotografi kota, kuliner modern, komunitas kreatif dan sebagainya. Sedangkan spiritualitas urban merupakan cara menjalani kehidupan spiritual di tengah ritme kota yang sibuk, padat, dan serba cepat. Perayaan Waisak di ruang terbuka kota besar yang bisa diistilahkan sebagai Waisak Urban kiranya berhubungan juga dengan kata spiritual urban ini.

Menariknya, kata urban juga sering dipakai bukan sekadar lawan dari “desa”. Ia juga membawa nuansa modernitas, mobilitas, keragaman, konsumsi, teknologi, bahkan keterasingan. Dalam kajian sosiologi, para pemikir, seperti filsuf Jerman Georg Simmel (1858-1918) dan sosiolog Amerika, Louis Wirth (1897-1952) melihat kehidupan urban sebagai pengalaman yang khas, dimana manusia hidup berdekatan secara fisik tetapi sering berjauhan secara emosional.

Istilah urban bukan hanya “kota.” Ia adalah dunia lampu yang tak pernah tidur, jalan yang selalu bergerak, kerumunan yang penuh wajah asing, dan pencarian makna manusia di tengah beton, kaca, dan bunyi kendaraan. Karena itu, ketika kita mendengar istilah seperti “festival urban” yang dimaksud biasanya bukan sekadar festival yang diadakan di kota, melainkan festival yang lahir dari jiwa dan budaya kehidupan kota itu sendiri. Demikian juga “waisak urban,” kiranya, lahir dari jiwa masyarakat Buddhis Jakarta, svaha!

 

Waisak Urban Bundaran HI Jakarta

Begitulah dengan perayaan keagamaan seperti Hari Suci Waisak yang diadakan di tengah kota seperti Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat yang bisa disematkan juga dengan kata “Waisak Urban.” Dalam pengertian tertentu bisa saja disebut “Waisak Urban”, tetapi, meski begitu, istilah itu lebih merupakan deskripsi sosiologis dan kultural daripada istilah resmi keagamaan. Tak ada tokoh Buddhis yang hadir maupun dalam sambutannya di dalam perayaan itu yang menyebut istilah itu.

Waisak yang dirayakan di kawasan seperti Bundaran HI sesungguhnya menghadirkan pengalaman yang berbeda dari Waisak di vihara pegunungan, desa, atau kompleks candi seperti Candi Borobudur. Ajaran dan makna spiritualnya tetap sama, tetapi konteks sosialnya berbeda, dan cahaya bulan purnama di langit yang bersinar tetap tidak tersaingi lampu-lampu kota dan permainan cahaya dari penyelenggara.

Terdapat beberapa ciri yang dapat membuat orang menyebutkan “Waisak Urban,” seperti: dilaksanakan di ruang publik perkotaan yang sibuk. Berinteraksi langsung dengan masyarakat yang beragam agama dan latar belakang. Menggunakan media digital, layar besar, siaran langsung, dan jaringan media sosial.

Selain itu juga menampilkan Buddhadharma sebagai bagian dari kehidupan kota modern, bukan hanya aktivitas internal komunitas Buddhis. Menghadapi tantangan khas kota, seperti kebisingan, lalu lintas, komersialisasi ruang publik, dan ritme hidup yang cepat. Terlebih Waisak ini diadakan bersisian dengan stasiun MRT Bundaran HI, kereta cepat berpenumpang massal, ciri khas kota modern- megapolitan. Bagaimana Buddhadharma bisa berperan di tengah kesibukan masyarakat kota yang bergerak cepat, kompetitif dan tergesa-gesa?

Dari sudut pandang sosiologi agama, perayaan Waisak ini menarik karena menunjukkan bahwa agama tidak menghilang akibat modernitas kota. Justru agama beradaptasi dan hadir di ruang-ruang urban. Seorang Bhikkhu yang bermeditasi di tengah hiruk-pikuknya jalan raya Jakarta menyampaikan pesan yang berbeda dalam konteks dibanding dengan seorang bhiksu yang bermeditasi di lereng pegunungan sunyi, meskipun nada spiritualitasnya sama.

Namun ada juga pertanyaan kritis: apakah Waisak Urban hanya memindahkan ritual ke pusat kota? Sekedar pertunjukan minoritas yang mencari makna di tengah pluralitas atau bahkan karena krisis identitasnya? Ataukah ia benar-benar menghadirkan nilai Buddhis ke dalam persoalan yang dialami masyarakat urban seperti kesenjangan sosial, kesepian, krisis lingkungan, budaya konsumsi, dan tekanan hidup kota?

Jika yang kedua terjadi, maka “Waisak Urban” bukan sekadar lokasi perayaan, melainkan upaya membawa kebijaksanaan Buddha ke jantung kehidupan modern. Layaknya Buddha berjalan di kota-kota besar, seperti: Savatti, Benares, Varanasi, Kusinara dahulu kala yang dikenal juga sebagai kota-kota besar jalur perdagangan, menyapa masalah dan kebutuhan spiritual masyarakat kala itu.

Spiritualitas Buddhis seakan menyala di tengah cahaya lampu dan di antara pencakar langit.  Di bawah cahaya reklame dan gedung-gedung tinggi, dan dalam lilin Waisak bercahaya listrik yang tetap menyala. Dan di antara bunyi klakson mobil di antara langkah pejalan kaki yang melintas, serta layar-layar elektronik, dan gema Dharma mencari telinga yang letih.

Kota tidak menjadi lawan kesunyian. Justru di tengah keramaian itulah, manusia modern menemukan betapa sunyinya dirinya. Maka Waisak Urban bukan sekadar Waisak di kota. Ia adalah perjumpaan antara kebijaksanaan kuno dan kegelisahan zaman baru, orang-orang kota, masyarakat urban modern dan mungkin juga kegelisahan, eksistensi dan identitas para penyelenggara Waisak itu sendiri di tengah lautan anomitas masyarakat urban.

 

Makna Sosiologis dan Spiritual

Ringkasnya, istilah “Waisak Urban” dapat dipahami pada dua lapisan makna sekaligus, yaitu makna sosiologi dimana Waisak hadir di ruang kota, dan makna spiritual, dimana Dharma yang berbicara kepada manusia urban.

Pada lapis makna sosiologis, “urban” menunjuk konteks sosialnya. Perayaan berlangsung di lingkungan perkotaan, melibatkan masyarakat kota, memanfaatkan infrastruktur kota, dan berhadapan dengan dinamika khas perkotaan, seperti mobilitas masyarakat yang tinggi, keberagaman budaya, pluralisme, teknologi digital, konsumsi massal, dan ruang publik modern.

Dalam pengertian sosiologis itu, Waisak Urban adalah fenomena sosial-keagamaan yang menunjukkan bahwa Buddhadharma hadir dan terlihat di tengah kehidupan kota modern metropolitan.

Pada lapis yang lebih dalam, makna spiritual, “urban” bukan lagi soal lokasi, melainkan kondisi batin manusia modern. Manusia urban sering menghadapi berbagai ragam peristiwa, seperti: kesibukan tanpa henti, kelelahan mental dan emosional, kesepian di tengah keramaian, kecemasan akan pekerjaan dan masa depan, ketergantungan pada teknologi dan media sosial, dorongan konsumsi yang terus-menerus.

Dalam konteks makna spiritual itu, Waisak Urban berarti perayaan yang menghubungkan ajaran Buddha dengan penderitaan khas manusia kota. Empat Kebenaran Mulia tidak hanya dibicarakan sebagai ajaran kuno, tetapi dikenakan makna kontekstual dalam derita aktual sebagai cara memahami stres, kecemasan, keterasingan, kesepian, dan ketidakpuasan yang dialami banyak orang saat ini.

Dengan demikian, “urban” tidak sekadar menunjuk gedung pencakar langit atau jalan raya. Ia menunjuk suatu kondisi eksistensial manusia modern, dengan problematikanya, ekonomi sosial, budaya, psikologi maupun spiritual.

Bahkan jika kita mengikuti pemikiran Bhiksu Thich Nhat Hanh (1926-2022), praktik kesadaran penuh justru menjadi sangat relevan di kota, karena kota adalah tempat di mana pikiran manusia mudah over, overthinking tercerai-berai oleh kecepatan dan distraksi.

Maka dapatlah dikatakan, bahwa Waisak Urban sebagai perayaan kelahiran, pencerahan, dan parinibbana Buddha dihadirkan di tengah pengalaman manusia modern. Secara sosiologis, ia berlangsung di ruang kota, dan secara spiritual, ia menyentuh kegelisahan manusia yang hidup dalam peradaban urban.

Dalam pengertian ini, seseorang dapat mengalami “Waisak urban” bahkan di sebuah vihara kecil, selama pertanyaan yang dihadapi adalah pertanyaan manusia zaman sekarang, seperti, bagaimana tetap sadar di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, bagaimana menemukan kedamaian di tengah percepatan hidup, dan bagaimana hidup manusiawi di tengah dunia yang semakin mekanis-hedonis materialistis.

 

Beginilah Renungan Waisak Urban

Lalu bagaimanakah spiritualitas waisak di tengah kota itu terasa, menyapa kebutuhan spiritualitas masyarakat urban? Bisakah itu terasa dan terwakili dalam renungan Waisak di tengah hiruk pikuk jalan raya kota seperti di bundaran HI? Tentu saja bisa dan pantas muncul, bahkan seharusnya demikian. Tetapi renungan tentu saja tidak sama dengan khotbah atau memberi kuliah tentang apa itu renungan, apalagi di tengah masyarakat urban kota yang lebih terdidik.

Renungan itu adalah siraman rohaniah yang berisikan kandungan spiritualitas yang diangkat dari makna Waisak yang mampu menyentuh dan menyapa masyarakat kota dengan segala problematika derita yang dihadapinya. Renungan adalah spiritualitas Waisak layaknya percikan air dharma yang sejuk menyentuh hati dan memberi kesegaran bagi kehausan spiritual masyarakat kota, dan yang secara implisit mengajak masyarakat kota menemukan arah hidup untuk tetap sadar di tengah kesibukan kota besar.

Malam turun di antara gedung-gedung tinggi. Lampu-lampu kota menyala seperti bintang buatan manusia. Jalanan masih ramai, kendaraan terus bergerak. Layar-layar terus berkedip. Pesan-pesan dan ucapan selamat dalam WA terus berdatangan. Dunia seolah tidak pernah berhenti. Di tengah semua itu, malam ini kita berkumpul merayakan Waisak, membuka hati dan sadar kita di tengah gemerlap cahaya bagi kota yang tak pernah tidur.

Dua ribu lima ratus tahun lebih yang lalu, seorang manusia berjalan di jalan-jalan berdebu India Utara. Ia tidak membawa teknologi, tidak memiliki kekuasaan, tidak memimpin kerajaan. Namun, hingga hari ini, suaranya masih terdengar. Ujarnya: “Perhatikan hidupmu. Kenalilah penderitaan. Bangunkanlah kebijaksanaan dan welas asih.”

Malam ini kita menyadari bahwa penderitaan tidak selalu berwujud kelaparan atau penyakit. Di kota modern, penderitaan sering mengenakan wajah yang lebih halus. Mungkin di antara kita, ada yang tersenyum tetapi kesepian. Ada yang berhasil tetapi tidak tenang. Ada yang dikelilingi banyak orang tetapi merasa tidak dikenal. Ada yang terus terhubung melalui jaringan digital tetapi kehilangan kontak dengan dirinya sendiri.

Kota memberi banyak kemungkinan, tetapi kadang juga membuat manusia lupa berhenti dan bertanya: “untuk apa semua kesibukan ini?” Buddha tidak mengajak kita meninggalkan dunia dan kota dengan menetap di hutan sunyi. Beliau mengajak kita melihat dunia dengan jernih dan Buddha sendiri memasuki kota-kota besar semasanya.

Mari kita membuka hati dan kesadaran kita sejenak, agar di tengah kebisingan kita ini, kita menemukan keheningan. Di tengah persaingan, di tengah keberagaman, kita memelihara toleransi, kepedulian, tetap memelihara welas asih. Di tengah ketergesaan, kita mengingat setiap langkah. Di tengah lautan informasi, kita menjaga kebijaksanaan.

Malam Waisak ini mengingatkan bahwa pencerahan bukan milik gunung yang sunyi saja, tapi juga kota peradaban modern. Pencerahan juga mungkin tumbuh di tengah kota, tidak kenal tempat dan waktu, lintas lokasi dan lintas zaman, lintas generasi.  

Di sebelah halte bus kota yang padat ini, di gedung kantor yang sibuk, dan di dalam menara hotel, atau di pasar modern, mall yang ramai. Bahkan di rumah sederhana di kampung sebelah jalan kota ramai ini yang dihuni keluarga miskin kota namun tetap masyarakatnya saling mengasihi, bertoleransi dan peduli.

Pencerahan sadar itu selalu tersedia. Di mana pun seseorang berhenti sejenak, melihat dengan sadar, sejenak mengamati napas hidup, dan membuka hati bagi semua makhluk. Lihatlah gedung-gedung yang menjulang itu. Suatu hari akan menua. Lihatlah jalan-jalan yang ramai itu, suatu hari akan sepi. Lihatlah tubuh kita, ia pun sedang berjalan menuju perubahan. Dan kenalilah kesakitan, duka kita suatu saat pun akan beralih sembuh.

Namun untuk semua kehadiran kita semua di sini, ada sesuatu yang dapat kita rawat setiap hari. Kebijaksanaan, welas asih, dan kesadaran. Itulah pelita yang tidak bergantung pada listrik kota. Itulah cahaya yang tidak padam ketika malam semakin gelap. Kesadaran yang selalu menyala seperti lampu-lampu kota menerangi jalan menuju pulang.

Maka pada Waisak urban ini, marilah kita pulang bukan hanya dengan foto dan kenangan perayaan. Marilah kita pulang dengan tekad yang sederhana. Untuk menjadi lebih sadar di tengah kesibukan. Lebih lembut di tengah kekerasan. Lebih jernih di tengah kebingungan. Dan lebih berbalas kasih di tengah dunia yang sering terburu-buru.

Karena sesungguhnya, kota yang damai dimulai dari hati yang tenang. Dan cahaya Waisak yang sejati bukanlah cahaya yang kita lihat di luar sana, melainkan cahaya yang perlahan menyala di dalam diri kita. Selamat Waisak 2570/2026, Tetaplah Sadar d Tengah Hiruk Pikuk Kota, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!  (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Dok. Setangkaidupa/Majaputera Karniawan

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?