WALUBI dan Waisak Ekologis: Purnama Siddhi Tanpa Lentera Lampion

Home » Artikel » WALUBI dan Waisak Ekologis: Purnama Siddhi Tanpa Lentera Lampion

Dilihat

Dilihat : 59 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 2664 stupa

Oleh: Jo Priastana

 

“May the light of Buddha’s Enlightenment with the full moon Siddhi

Guide us on the path of wisdom, love, and compassion.

May it bring peace to your heart and to the world.”

(Happy Vesak Day 2570/2026, by Setangkaidupa).

 

Nama Walubi yang berdiri di tahun 1998 ini sesungguhnya seakan merujuk pada Walubi yang berdiri di tahun 1979. Sama-sama sebagai organisasi Buddhis Nasional, meski memiliki singkatan yang sama namun kepanjangan yang berbeda. Walubi 1979 adalah Perwalian Umat Buddha Indonesia dan Walubi 1998 adalah Perwakilan Umat Buddha Indonesia. Masing-masing adalah organisasi tersendiri, Walubi 1998 bukan keberlanjutan secara historis dari Walubi 1979.

Perbedaan antara Walubi Perwalian (1979) dan Walubi Perwakilan (1998) selain di masa kemunculannya juga diantaranya terletak pada struktur organisasi, cara representasi umat, maupun konteks politik pada zamannya. Selain itu, sama berperan sebagai pengelenggara perayaan Waisak Nasional di Candi Borobudur di masanya masing-masing. Perbedaan dua organisasi Buddhis Nasional yang cukup mendasar itu juga terasa langsung dalam nuansa dan atmosfir spiritual perayaan Waisak Nasional di Candi Borobudur.

Mereka yang mengikuti tahun-demi-tahun perayaan Waisak semasa Walubi 1979 dan kini sudah berada di masa emas hidupnya di senja usianya berambut perak mungkin tak akan pernah membayangkan bahwa ritual Waisak Walubi 1998 kini dilengkapi dengan penerbangan lampion ke udara. Waisak Walubi 1998 kini jadi lebih terasa sebagai ritual-festival ketimbang meditatif-spiritual di bawah cahaya sinar bulan purnama Siddhi, sebagaimana orang tua dahulu resapi dalam tahun-tahun Waisaknya di Borobudur yang memetik cahaya alami purnama siddhi berkah kesempurnaan Waisak.

 

Waisak Borobudur Masa Walubi 1979

Masa Walubi “Perwalian” (1979) sebagaimana sifat organisasinya, dalam perayaan Waisaknya juga cenderung lebih seragam dan terpusat. Tata cara relatif dikendalikan oleh satu otoritas, dan nuansa ritual lebih “disatukan”, kadang mengurangi kekhasan masing-masing tradisi. Ada kesan bahwa Waisak adalah representasi umat Buddha Indonesia, yang bersatu bersama merayakan kesyahduan purnama siddhi Waisak di pelataran Candi Borobudur. Banyak waktu yang banyak dipergunakan untuk kontemplatif di pelataran candi, meditasi intensif dan semakin merasakan getar spiritual ketika tiba detik-detik Waisak yang menjadi peak happening sangat dinantikan dan dialami sepenuhnya.

Perayaan Waisak yang kuat dengan daya teosofi-spiritual dari para generasi terdahulu, para pelopor kebangkitan agama Buddha kembali di Nusantara. Generasi yang mungkin telah banyak yang tiada atau yang saat ini sedang berada di usia senja emasnya. Ada seorang tua berambut perak kerap mengisahkan perayaan Waisak Walubi 1979 itu dan juga bahkan perayaan Waisak di tahun-tahun sebelum 1979 yang begitu kaya dengan daya kontemplatif dan meditatif.

Di usia senjanya, orang tua yang sudah kakek sepuh dan kerap duduk diam di beranda yang sunyi. Malam itu, angin berhembus pelan, membawa bau tanah yang lembab dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Ia mengisahkan kenangan perayaan Waisak di Borobudur dahulu, terutama perayaan di kala malam sunyi suci kala bulan purnama Siddhi terang dengan cahaya bundarnya.

Di kejauhan, di dekat rumah dan tempat duduknya itu, terdengar lonceng vihara yang sedang merayakan Waisak berdenting lirih, seolah memanggil batin sang kakek untuk mengenang kembali Waisak yang tahun-tahun lampau dilakoninya setiap tahun di candi Borobudur. Ia menutup matanya sejenak. “Ah, Waisak,” bisiknya dalam hati, seperti menyapa sahabat lama. Bukan lagi keramaian yang ia cari, bukan pula gemerlap lampion atau hiruk pikuk perayaan. Yang ia rindukan justru keheningan detik Waisak yang nyaris tak terdengar, tetapi terasa begitu dalam, detik Waisak, yang baginya selalu disambut dengan meditasi berjam-jam bahkan berhari-hari sebelumnya dengan bepuasa.

Ingatannya membawa jauh ke masa ketika Walubi tahun 1979 bahkan di sepuluh tahun sebelumnya di mana perayaan Waisak masih sederhana, ketika perayaan Waisak belum dipenuhi sorot kamera dan gemuruh manusia. Saat itu, ia masih muda, duduk bersila sejak sore hari di pelataran, semakin senja malam beranjak ia menatap naiknya bulan purnama dengan hati yang bergetar tanpa sebab.

Peziarah spiritual berdatangan, dan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dalam duduk bersimpuh di pelataran atau bermeditasi di puncak Borobudur stupa induk tanpa chattra. Tak ada banyak kata, tak ada banyak simbol, hanya napas, masuk keluar dan kesadaran yang perlahan terbuka.

Saat-saat menanti detik Waisak adalah saat-saat yang sungguh senyap tanpa suara, sebagai puncak hening yang menelan segala kegelisahan. Ia ingat, saat itu hatinya berbisik pelan meresapi peristiwa Waisak, “inilah saat kelahiran, pencerahan, dan parinibbana menyatu.” Namun baginya, itu bukan konsep. Itu adalah rasa, rasa yang seperti embun jatuh di ujung daun, begitu halus, namun nyata.

Kini, tubuhnya telah renta. Lututnya tak lagi kuat untuk duduk lama atau bersila dalam meditasi. Matanya mulai kabur. Tetapi anehnya, justru di usia senja ini, ia merasa semakin jelas dekat dengan terang detik Waisak itu dimana pun ia berada, meski tidak lagi di Candi Borobudur kini.  

Ia tersenyum tipis. “Dulu aku mendaki puncak Candi Borobudur merasakan getar Waisak di puncak stupa,” gumamnya, “namun sesungguhnya aku menemukannya di dalam hati.” Langkah ke atas itu hanya syarat untuk menyelam ke dalam dasar batin. Di puncak stupa itu sungguh didapati pelajaran dan pengalaman yang begitu dalam dari malam suci Waisak di Candi Borobudur dan yang terus membekas hingga di senja usianya.

Angin malam kembali lewat. Bulan purnama menggantung utuh di langit, seperti dahulu, tak berubah. Yang berubah hanyalah cara ia memandangnya. Ia menarik napas panjang. Dalam keheningan itu, ia merasakan sesuatu yang begitu lembut, sebuah pelepasan. Tidak ada lagi keinginan untuk menggenggam, tidak ada lagi dorongan untuk mencari apa pun. Hanya ada hadir. Hanya ada sadar, sebagaimana meditasinya di tahun-tahun lampau di pelataran puncak Borobudur. Dan dalam kedalaman batin itu, detik Waisak kembali datang, bukan sebagai peristiwa tahunan, melainkan sebagai cahaya kecil yang menyala tanpa suara.

Ia berbisik, hampir tak terdengar: “semoga semua makhluk berbahagia, bahkan yang tak terlihat, bahkan yang terlupakan.” Lalu ia diam. Dan malam pun menjadi meditasi yang tak berujung dimana ego-nya menyelam ke semesta alam, melebur dalam kebersamaan dengan lingkungan, dari ego ke eco.

Suara denting lonceng dan paritta yang tadi berbunyi dari vihara dekat rumah yang merayakan Waisak sudah tak terdengar lagi. Sepi merasuk dan sunyi begitu meresap, namun hatinya serasa begitu lapang dan luas bagai bentangan kekosongan cakrawala di puncak stupa induk Borobudur tak berchattra, serasa nuansa spiritual tahun-tahun Waisak yang lalu-lalu hadir di hadapan dalam horison kesadaran tak bertepi.

 

Waisak Borobudur Sesudah 1998

Sesudah 1998 (masa Walubi “Perwakilan”), perayaan Waisak di Borobudur menjadi lebih plural namun tetap inklusif. Tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana bisa tampil berdampingan. Muncul variasi ritual dalam keragaman dan ditambahkannya budaya ritual baru. Pradaksina, chanting dengan gaya berbeda, kadang justru ada lebih dari satu versi perayaan Waisak oleh organisasi berbeda semarak justru di satu tempat.

Perayaan Waisak layaknya festival ritual Waisak dimana masing-masing anggota majelis bisa menampilkan kekhasan ritualnya masing-masing, meski juga terdapat perayaan Waisak yang bersifat kolektif bersama-sama atau Nasional bersamaan detik Waisak. Perayaan Waisak juga dirasakan umat sebagai ruang perjumpaan dan bukan sekadar keseragaman. Singkatnya, ada perbedaan dari “satu suara” semasa Walubi 1979 ke “paduan banyak suara,” semasa Walubi 1998.

Masyarakat bisa merasakan nuansa spiritual Waisak di pelataran Candi Borobudur saat perayaan Waisak kini. Ada banyak suara paritta, mantra, dan doa. Tapi justru di tengah keragaman itu, umat tetap menuju satu hal yang sama, yaitu keheningan batin, seolah mengingatkan cara boleh berbeda, tetapi keheningan yang dituju tetap satu.

Di malam Waisak itu, batu-batu tua Candi Borobudur tidak lagi diam. Batu itu seakan bernapas, pelan dan dalam seperti dada semesta yang mengembang dalam keheningan. Langit menggantungkan bulan seperti lentera batin, sementara manusia datang dari segala arah, membawa doa dengan bahasa yang berbeda-beda, namun dengan luka dan harapan yang serupa, semoga bahagia dan terbebas dari dukkha, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Ada umat dalam heningnya melafalkan paritta dalam lirih Theravada, ada yang melantunkan sutra dengan nada panjang Mahayana, dan ada pula yang berbisik mantra seperti angin gunung Vajrayana. Suara-suara itu tidak saling meniadakan, melainkan berjalin, seperti anyaman waktu yang sabar.

Langkah-langkah pradaksina menuju puncak stupa, juga tampaknya bervariasi, namun justru di sanalah hidup menemukan iramanya. Berbeda tetapi tidak terpisah. Tahun-tahun belakangan ini malam Waisak juga dimeriahkan oleh lentera lampion yang dilepaskan ke langit, yang tentunya ada makna dan tujuannya. Mungkin ia bukan untuk melarikan doa, melainkan untuk mengajarkan bahwa yang dilepas dengan tulus, akan menemukan jalannya sendiri.

Dan di puncak stupa yang tanpa chattra itu, sebuah kekosongan cakrawala yang tidak meminta dipayungi selalu menjadi guru yang paling jujur. Karena kekosongan cakrawala memayungi semua yang ada, tidak memilih suara mana yang paling benar, tidak memihak aliran mana yang paling suci. Selalu diam dan dalam diam itu semua perbedaan luruh.

Malam Waisak itu, meski umat berlabel identitas di dadanya sesungguhnya tidak lagi berdiri sebagai wakil dari kelompoknya, melainkan sebagai peziarah batin yang sadar bahwa penderitaan adalah milik bersama, dan pembebasan pun demikian. Di antara cahaya lilin dan desir angin, Borobudur berbisik tanpa kata, bahwa cara dan metode boleh beragam, ritual boleh berbeda, sejarah boleh berliku, namun ketika batin benar-benar hening, tak ada lagi perbedaan aliran, sekte dan golongan. Yang tersisa hanyalah kesadaran yang pulang.

Belakangan, Waisak Borobudur yang dihiasi oleh lentera lampion, juga disambut dengan kritik ekologis. Kritik muncul terhadap lampion Waisak dari segala kalangan, aktivis ekologis maupun dari dalam komunitas Buddhis. Dalam perayaan Waisak di Candi Borobudur, lampion sering dimaknai sebagai pelepasan kegelapan batin, harapan yang “naik” menuju pencerahan, atau cahaya kebijaksanaan di bulan waisak yang diharapkan. Secara simbolik, ini sejalan dengan spirit Waisak, memaknai terang batin, pelepasan, dan transformasi.

Namun, ada sisi lain yang tak bisa diabaikan. Lampion yang dinaikkan ternyata menyajikan ketegangan dengan nilai ekologi. Dalam Buddhadharma, ada prinsip ahimsa atau tanpa kekerasan, welas asih terhadap semua makhluk, serasi dengan alam, kesadaran akan saling keterhubungan (interbeing).

Jika lampion meninggalkan sampah di hutan/sawah/sungai, atap rumah, pohon kelapa, membahayakan burung atau hewan, akan berpotensi memicu kebakaran dan mencemari lingkungan. Maka praktik menaikkan lampion itu justru bergesekan dengan spirit Waisak itu sendiri. Artinya, simbol “melepaskan” bisa berubah menjadi meninggalkan jejak penderitaan,” dampak ekologis, mencederai alam.

 

Lentera Lampion dan Dampak Ekologis

Waisak yang berdampak ekologis tentunya bertentangan dengan kehadiran Waisak itu sendiri yang ekologis dan bersatu dengan semesta alam. Bulan Purnama hadir ketika Siddharta menjadi Buddha, dan cahaya bulan purnana yang bersinar di atas adalah pancaran hati Sang Guru. Karena cahaya bulan purnama itu sendiri justru adalah kesertaan yang menyatu dalam menyertai Waisak sebagai lentera batin yang bercahaya. Sehingga agak janggal kiranya bila Waisak disertai lampion yang justru merusak alam, berdampak kerusakan ekologis.

Sejatinya, Waisak itu sendiri tidak butuh lampion, karena terang Bulan purnama sudah cukup, cahaya bulan adalah lentera alami yang membangkitkan kebuddhaan dalam batin. Bulan purnama Siddhi adalah pencerahan Waisak yang juga dirayakan oleh semesta alam, tidak mencemari, tidak meninggalkan residu. Cahaya bulan itu menerangi semua tanpa pilih kasih, cahaya  asli, alami, murni suci dari sinar bulan purnama Siddhi untuk semua bebas berbayar. Dalam keheningan cahaya bulan, justru ada pelajaran, bahwa pencerahan itu tidak berisik, tidak meninggalkan jejak, tetapi hadir sepenuhnya dalam batin yang menyala.

Karenanya, kekritisan yang muncul dalam menyikapi Waisak kini adalah, mungkin pertanyaan terdalamnya yang berbunyi bukan: “Apakah lampion sesuai dengan Waisak?” melainkan: “Apakah batin yang melepaskan lampion itu juga melepaskan keserakahan, ego, dan ketidaksadaran, kedunguan batin (moha)?” Karena jika tidak, lampion hanya naik ke langit, tapi batin tetap tinggal di bumi, penuh beban, beban ekologis.

Pantasnya dan seharusnya Waisak tak perlu lampion yang berdampak ekologis, merusak dan membahayakan lingkungan hidup. Lentera lampion mungkin bisa menjadi indah secara simbolik, namun hanya terasa indah sejauh di mata yang memandangnya, dan lagi menghadirkan problematis secara ekologis. Spirit Waisak yang sejati adalah sejalan dengan alam, sunyi, bersih, dan penuh welas asih.

Seringkali kesucian hati itu justru lebih dekat dengan cahaya bulan purnama itu sendiri. Cahaya alam yang tidak pernah meminta dirayakan dan menuntut pendanaan, namun selalu hadir menerangi. Waisak selalu bersama alam dimana ego melebur dalam eco, tak terpisahkan.

Kita kritis terhadap Waisak yang berlampion. Cukup rembulan di langit malam yang bercahaya lembut dan menggugah kesadaran menjadi lentera batin. Di malam Waisak ekologis, di pelataran Candi Borobudur, hanya ada langit yang telah lebih dahulu sejak ribuan tahun lalu menyalakan cahayanya sendiri dan menggugah batin manusia. Bulan purnama siddhi yang menggantung tanpa suara, tidak meminta tepuk tangan, tidak meninggalkan jejak, namun menerangi segala arah, bahkan sudut-sudut batin yang paling tersembunyi dimana ego bersemayam dalam ghost yang kerap menyamar atas nama Buddha.

Disitu disampaikan pertanyaan. Mengapa manusia harus datang membawa api kecil di tangan, membungkusnya dalam kertas tipis bernama harapan, dan menyebutnya doa yang dilepaskan ke langit? Lampion-lampion itu naik, perlahan, indah, memikat mata, seperti keinginan yang diberi sayap. Namun, angin tahu arahnya pulang, dan bumi tahu tempat jatuhnya. Di ladang yang sunyi, di dahan yang rapuh, di sungai yang mengalir diam-diam, sisa-sisa cahaya itu kembali menjadi benda, bukan lagi doa, melainkan jejak keinginan yang tertinggal.

Seekor burung malam terdiam, menatap serpihan yang tak ia pahami. Angin pun bertanya tanpa suara. Apakah ini yang disebut pelepasan? Sementara itu, bulan tetap utuh di langit, tak pernah jatuh, tak pernah mengotori, tak pernah meninggalkan luka. Purnama siddhi itu hanya memberi, tanpa membakar, tanpa memiliki.

Dan Buddha seakan berbisik dari keheningan itu. Bukan semua yang naik berarti terbebas, bukan semua yang bersinar berarti mencerahkan. Jika yang dilepas masih menyisakan penderitaan, maka itu bukan pelepasan, hanya pemindahan beban dari tangan ke dunia. Malam itu, di antara cahaya semesta alam, seorang peziarah berhenti. Ia tidak lagi menyalakan lampion namun melihat ke langit malam, bulan purnama siddhi yang bersinar lembut, lalu Ia menutup matanya dan tersenyum.

Dalam merasakan cahaya bulan purnama siddhi itu ia sadar bahwa kebodhian cahaya sempurna itu nyatanya selalu ada dalam dasar batinnya. Kini ia melihat sesuatu yang jauh lebih terang dari cahaya-cahaya yang dinyalakan banyak orang. Sesuatu yang selalu ada, tidak perlu dilepas, karena sejak awal, kebuddhaan itu tak pernah terikat, selalu berada dalam dasar batin yang dalam. Di situlah Waisak terjadi bersama munculnya cahaya di langit tinggi, dari terang bulan purnama siddhi, mengenali lubuk hati terdalam, berkah bagi semesta alam. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar:

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?