Wong Jawa Buddha Banyumasan

Home » Artikel » Wong Jawa Buddha Banyumasan

Dilihat

Dilihat : 127 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 19
  • 41
  • 29,356
P1350053-scaled

Oleh: Jo Priastana

 

“Munculnya wong Jawa Buddha Banyumasan sebagai wong Jawa yang “adoh ratu cedhak watu”, menunjukkan kemampuannya dalam membangun pengetahuan dan institusi agama Buddha Banyumasan, sekaligus memberikan sumbangan terhadap pendidikan Agama Buddha di Indonesia. Keberadaan wong Jawa Buddha Banyumasan menjadi tanda sikap moderat masyarakat dalam menerima keragaman agama dan budaya, serta dalam menjaga kebinekaan”

(Dr. Puji Sulani, Dosen STABN Sriwijaya)

 

Wong Jawa Banyumasan merupakan kosakata yang dimaksudkan sebagai orang yang secara suku dan kultural terdapat di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah di daerah Karesidenan Jawa Tengah. Wilayah Banyumasan mencakup empat Kabupaten, yaitu Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara dan Kabupaten sekitarnya, khususnya Kebumen. (Budiono Herusatoto, “Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak,” Yogyakarta, 2008:16).

Wong Banyumasan hidup dan memiliki leluhur, merasa dan mengakui memiliki leluhur, bangga memiliki garis keturunan; dan pernah tinggal atau menetap di wilayah Banyumas (Budiomo Herusatoto, 2008:6). Kebanggaan atas garis keturunan, adat, tradisi, budaya yang mencakup kehidupan spiritual, kepercayaan dan keyakinan agama ini memiliki dinamikanya, seturut dengan perubahan sosial budaya dan pergolakan politik yang menyertai perjalanan terbentuknya wong Jawa Buddha Banyumasan.

Dinamika proses terbentuknya wong Jawa Buddha Banyumasan ini diangkat oleh Puji Sulani dalam disertasinya “Konstruksi Identitas Agama Buddha Wong Jawa Banyumasan Di Eks-Karesidenan Banyumas Tahun 1965-1998.” Disertasi Puji Sulani yang diujikan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Doktor Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia, Depok, pada 14 Juni 2023. Hasil kajian ini sangat penting dan bermanfaat untuk memahami wong Jawa Buddha Banyumasan sebagai suatu entitas kekayaan keragaman agama Buddha di Indonesia.

 

Dinamika Sosial Politik 1965

Sejak kemunduran kerajaan Hindu dan Buddha, agama wong Jawa yang diakui adalah Islam dengan karakter yang disebut M.C. Ricklefs “sintesis mistik”. Setelah Jawa di bawah kekuasaan Belanda, agama Kristen diperkenalkan. Pada masa itu, ketika sebagian wong Jawa semakin kuat menjalankan praktik spiritual Jawa yang sinkretis dengan Hindu dan Buddha (Robert Hefner, 1999:53), bersifat Tantris juga sinkretis dengan Islam. Kelompok tersebut dikenal sebagai aliran kebatinan (J.A. Niels Mulder, 1970) atau aliran kepercayaan (Koentjaraningrat, 1984).  

Ada dua faktor politis yang memberi dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat di Banyumas dimana wong Jawa Banyumasan menjadi wong Jawa Buddha Banyumasan. Pertama adalah Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, dimana kelompok aliran kepercayaan tidak digolongkan sebagai agama. Kedua, peristiwa G-30-S tahun 1965 yang menjadi faktor kausal lebih dominan yang berdampak dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya pengikut aliran kepercayaan yang terstigma sebagai komunis, “bukan agama” atau “belum beragama.”

Pengikut kelompok aliran kepercayaan seperti Kawruh Naluri misalnya, memposisikan dirinya melawan stigma komunis dan “belum beragama” dengan memilih agama Buddha. Mereka memilih agama Buddha atas berbagai alasan, seperti: kesamaan ajaran dan praktik keagamaan, meneruskan adat dan ajaran Jawa, perasaan memiliki nenek moyang beragama Buddha dan naluri mengikuti pesan leluhur agar menganut ajaran kasunyatan, atau agama Jawa atau Buddha, serta alasan pragmatis terkait ritus dan upacara keagamaan.

Selain itu, juga tidak bisa dilepaskan adanya keyakinan terhadap munculnya kembali agama Buddha pada 500 tahun setelah kemunduran kerajaan Hindu dan Buddha. Keyakinan ini sejalan dengan aspirasi mengikuti jejak leluhur Jawa melestarikan agama Buddha yang didasarkan pada ramalan Sabdopalon dalam Serat Dharmagandul dan Serat Gatholoco. Leluhur Jawa tersebut adalah Kaki Semar atau Ismoyo, jelmaaan Sabdopalon (K.R.T. Tandanagara, “Dharmagandul”, 1957: 41-42).

Perubahan identitas wong Jawa Banyumasan dan pengikut aliran kepercayaan menjadi wong Jawa Buddha Banyumasan adalah realitas yang dikonstruksi secara sosial oleh kelompok sosial tersebut. Kebebasan dalam mengubah dan mengonstruksi identitas sebagai wong Jawa Buddha Banyumasan merupakan hasil interaksi antara struktur sosial politik tahun 1965 hingga tahun 1998 yang bersifat simbiosis dan saling mendukung. Wong Jawa Banyumasan yang mendapatkan label sebagai orang yang “belum beragama” dan terstigma sebagai komunis karena tidak beragama atau dicurigai terlibat dalam persitiwa G-30-S tahun 1965, dalam rentang waktu itu mendapatkan kebebasan untuk beragama Buddha. Muncullah varietas agama Buddha wong Jawa Buddha Banyumasan. 

 

Wong Jawa Buddha Banyumasan

Interaksi wong Jawa di eks-Karesidenan Banyumas dengan agama Buddha berkaitan dengan kemunculan kembali agama Buddha di Jawa pada awal hingga pertengahan abad ke-20. Kemunculan berdirinya agama Buddha ini secara umum ditandai dengan penanaman pohon Bodhi. Penanaman pohon Bodhi sebagai simbol lahirnya agama Buddha itu diantaranya di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang.

Dari vihara tersebut, Tjiptowardjojo pada tahun 1976 membawa cangkokan pohon Bodhi dan menanamnya di seberang gedung PGAB Mpu Tantular. Kemudian bagian cangkokan pohon tersebut dicangkok ulang dan dibawa ke area Gunung Srandil untuk ditanam. Pelopor kebangkitan kembali Agama Buddha, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita menanam cangkokan pohon Bodhi itu di tempat yang saat ini menjadi halaman Padepokan Agung Mandala Giri Srandil, Cilacap pada tahun 1976.

Penanaman pohon Bodhi di Srandil itu menjadi tanda berdirinya agama Buddha dan menjadi simbol relasi budaya Jawa dengan agama Buddha. Relasi tampak pada penanaman pohon Bodhi oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sebagai representasi agama Buddha dan penanaman di tempat ritus dan upacara aliran kepercayaan atau kejawen di area Gunung Srandil sebagai representasi budaya wong Jawa Banyumasan dan diyakini juga sebagai tempat bersemayam Sang Ismaya, Semar.

Relasi budaya Jawa dengan agama Buddha juga tercermin pada tanggal 1 Suro. Pada tanggal 1 Suro itu sebagian wong Jawa dan dengan wong Jawa Buddha Banyumasan merayakan tahun baru Jawa atau suran. Perayaan 1 Suro tahun 1911 Saka di area Gunung Srandil pada Jumat Kliwon dalam kalender Jawa, tepatnya tanggal 30 November 1978, pukul 17.00 dan tanggal 1 Desember 1978.

Beberapa tradisi wong Jawa Buddha Banyumasan yang berkembang juga merupakan kelanjutan, penerusan, dan pembaruan tradisi Jawa yang dipraktikkan ketika sebagai pengikut aliran kepercayaan. Tradisi dimaksud seperti slametan, penggunaan sesajen, konsep hidup wong Jawa seperti “tetap kakang kawah adi ari-ari” dalam konsep “Sedulur Papat Lima Pancer”, serta dimaksudkan agar tradisi Kawruh Naluri tetap ada meskipun telah menjadi umat Buddha.

Tradisi yang dijalankan wong Jawa Banyumasan sejalan sebelum hingga setelah menjadi umat Buddha. Tradisi itu misalnya merayakan tahun baru Jawa, 1 Suro dengan slametan suran, dan slametan lainnya seperti: ruwahan, nyadran, pada Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, hari lahir atau terkait siklus kehidupan dalam konsep Jawa, penghitungan hari baik dan nyekar ke makam leluhur yang disertai sesajen.

Perubahan identitas wong Jawa Banyumasan menjadi wong Jawa Buddha Banyumasan yang sejalan dengan kebangkitan kembali agama Buddha ditindaklanjuti agen-agen dengan mengonstruksi institusi agama Buddha, diantaranya dengan memperkuat relasi antar agen lokal, menjalin relasi dengan agen dan organisasi Buddha lintas daerah. Upaya membangun pengetahuan dan institusi sosial agama Buddha ini berimplikasikan terjadinya perubahan sosio-kultural wong Jawa Buddha Banyumasan yang mencakup kelompok sosial, sistem religi, dan juga mentalitenya.

Dibentuknya kelompok sosial “Koordinator Kegiatan Agama Buddha Indonesia di Vihara Vajranala di Desa Buntu-Banyumas” turut menjembatani dikonstruksinya sistem religi agama Buddha yang diselaraskan dengan ajaran Kejawen Banyumasan. Perubahan mencakup sistem keyakinan, sistem ritus dan upacara, serta sistem kebudayaan, dari yang bernafaskan kejawen menjadi dipadukan dan berinteraksi dengan budaya agama Buddha. Hadirnya sistem religi agama Buddha Theravada dan Maitreya mengawali hadirnya budaya agama Buddha dalam sistem religi wong Jawa Banyumasan, namun tetap tidak banyak mengubah sistem keyakinan serta sistem ritus dan upacara bersifat Jawa.

 

Adoh ratu cetak watu” dan Dr. Puji Sulani

Wong Jawa Buddha Banyumasan menunjukkan kemampuannya dalam membangun pengetahuan dan institusi agama Buddha. Kemampuan ini sungguh serasa sebagai cerminan “adoh ratu cetak watu – jauh dari penguasa, dekat dengan batu.” Suatu keadaan yang dialami oleh orang-orang berbudaya Tegal-Bayumasan yang dikenal sebagai orang Jawa Ngapak dimana mereka tinggal di daerah yang secara geografis agak jauh dari ibukota sekaligus pusat budaya (Mataram Islam yang berada di kota Surakarta dan kota Yogyakarta).

Karena secara geografis agak jauh dan berjarak dari pusat budaya Jawa, mereka mampu mengembangkan budaya Jawa yang berbeda dengan orang Jawa yang tinggal di wilayah Mataraman yang mengikuti pakem budaya yang berkembang di ibukota Mataram Islam yang berada di kota Surakata dan kota Yogyakarta. Hal ini memperlihatkan kemampuan wong Jawa Banyumasan dalam membangun sistem religi dan budaya spiritualnya, termasuk kemampuannya dalam mempertahankan dan mengembangkannya sebagai wong Jawa Buddha Banyumasan.

Puji Sulani, dosen di STBN Sriwijaya, Serpong Banten adalah anak kandung yang lahir dari budaya religi wong Jawa Banyumasan. Ia menelisik sejarah perubahan, perkembangan dan juga pertahanan budaya spiritual, kecerdasan, kearifan lokal di daerah kelahirannya. Bisa dipandang juga upaya Puji Sulani ini sebagai jalan untuk mengenali dirinya sebagai wong Buddha Banyumasan dan mendapat momentumnya untuk dituangkan sebagai disertasi program doktornya.

Disertasinya adalah penelitian sejarah sosial yang menggunakan metode sejarah dalam empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi, serta menggali berbagai sumber sejarah baik tulisan, dokumen maupun lisan dengan wawancara tokoh terkait. Metode penelitian sosial-sejarahnya ini juga mempergunakan pendekatan konstruksi sosial dari Peter Berger dan Thomas Luckmann yang melihat terbentuknya kelompok wong Jawa Buddha Banyumasan dalam hubungan timbal balik melalui tiga momentum: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi; antara kenyataan subjektif dan objektif serta antara manusia sebagai produsen dengan dunia sosial sebagai produk dan sebaliknya.

Puji Sulani menyimpulkan ada faktor struktur sosial-politik dan budaya yang menyebabkan perubahan identitas dari pengikut aliran kepercayaan sehingga menjadi wong Jawa Buddha Banyumasan. Pertama dipengaruhi struktur sosial politik yang mengekang, yaitu Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalagunaan dan/atau Penodaan Agama dan peristiwa G-30-S tahun 1965. Kedua faktor budaya, yakni mentalite atau kesadaran subjektif terhadap identitas budaya Jawa Kuno juga berinteraksi dan menjadi alasan lain dilakukannya perubahan identitas dengan memilih agama Buddha.

Perubahan identitas wong Jawa Banyumasan menjadi wong jawa Buddha Banyumasan menyemarakkan kebangkitan kembali agama Buddha dengan ciri khas dan keunikan, warna yang berbeda berdasar pada kekayaan kearifan lokal. Wong Jawa Buddha Banyumasan telah memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan agama Buddha di Indonesia baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Urgensinya bidang pendidikan Agama Buddha telah disadari sejak awal oleh para perintis, sesepuh, dan dengan segala perjuangan dan pengorbanannya mampu melahirkan institusi pendidikan Agama Buddha di Sumpiuh Banyumas.

Sejak awal tahun 1970-an, suami istri Tjioptowardjojo dan Suminah mengawalinya dengan KGAB (Kursus Guru Agama Buddha), lalu PGAB (Pendidikan Guru Agama Buddha) Mpu Tantular, pada tahun 1980 dan STAB (Sekolah Tinggi Agama Buddha) Mpu Tantular (sudah tutup) di tahun 1990. Tokoh, sesepuh yang patut mendapat pujian dan hormat karena jasanya tak ternilai, berkorban untuk kebangkitan agama Buddha yang berkualitas.

Aura semangat dan dinamika wong Jawa Buddha Banyumasan itu terus bernyala sampai dalam rentang setengah abad. Kini, di tahun 2023, pemenuhan terhadap insan Buddhis berkualitas itu berpuncak pada sosok Puji Sulani melalui disertasi doktoralnya, “Konstruksi Identitas Agama Buddha Wong Jawa Banyumas Di Era Eks-Karesidenan Banyumas Tahun 1965-1998” di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Sejarah, Universitas Indonesia, Depok. Selamat, “yang terdidik dan terpelajar” Dr. Puji Sulani. Proficiat! (JP). **  

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

sumber gambar: https://fib.ui.ac.id/2023/06/15/promosi-doktor-puji-sulani-dengan-disertasi-konstruksi-identitas-agama-buddha-wong-jawa-banyumasan-di-eks-keresidenan-banyumas-tahun-1965-1998/

Butuh bantuan?