JAJAK PENDAPAT: Integritas Vs Tingkat Pendidikan

Home » E-jurnal » JAJAK PENDAPAT: Integritas Vs Tingkat Pendidikan

Dilihat

Dilihat : 38 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 18
  • 41
  • 29,355
Pic 1 integritas

“Didalam hal pengetahuan kitab, mungkin aku sudah menyamai orang lain. Namun didalam kesungguhan berlaku sebagai susilawan, aku masih khawatir belum berhasil.”

(Konfusius, Lun Gi VII: 33)

 

Mungkin diantara kita sering mendengar kata integritas, yang bila kita cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia kata tersebut berarti “Mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.” Hanya saja konsep integritas tidak berhenti hanya sampai di sini saja. Pada pandangan yang berlaku di masyarakat, integritas juga mencakup aspek moral dan kepribadian diri yang luhur.

Setidaknya menurut Huberts (2014, 2018), Integritas mencakup 8 pengertian: Keutuhan dan koherensi; tanggung jawab profesional; refleksi moral; nilai-nilai yang tidak bersifat korup; hukum dan aturan; nilai dan norma moral; dan sikap keteladanan. Dari beragam aspek inilah yang kemudian merumuskan Integritas sebagai keutuhan nilai moral yang bukan hanya dalam sisi kepribadian saja, melainkan juga dalam lingkungan organisasi dan bermasyarakat.

Menariknya ada data penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa: semakin tinggi jenjang pendidikan, integritas yang tercermin dari karakter, ekosistem, dan kepatuhan justru makin rendah. Data ini ditunjukkan dari Indeks Integritas Pendidikan Nasional yang dikemukakan oleh KPK dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan di Jakarta, Selasa (4 Juli 2023). Berangkat dari fakta demikian, tim Setangkaidupa kembali mengadakan jajak pendapat pembaca terkait Integritas vs Tingkat Pendidikan.

Hasil jajak pendapat bisa dilihat dalam diagram berikut ini:

Sebanyak 62,1% responden berpendapat TIDAK BENAR bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang malah membuat integritas seseorang menjadi semakin rendah. Mereka berpendapat demikian karena merasa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin besar tanggung jawab, semakin tinggi kesadaran diri, dan juga menganggap bahwa penentu utama ada atau tidaknya integritas adalah pembangunan moral karakter. Berikut ada beberapa alasan dari mereka yang mendukung hal ini:

“Mrk yg berpendidikan biasanya lbh paham dgn aturan & sanksinya, malu utk berbuat seenaknya. Krn akan dinilai tdk sesuai dgn pendidikannya. Meskipun tdk jarang msh ada bbrp dr mrk yg berpendidikan tp memiliki ‘attitude’ yg buruk, semua ini tdk lepas dr latar blkg pengaruh lingkungan sktrnya & rendahnya kesadaran individual sedari dini yg tdk disiplin & menghargai sesama.”

“Karena integritas diri itu tergantung pada pendidikan moral yang diserapnya didalam jenjang pendidikannya. Dan juga terbentuk pada pendidikan di lingkungan sosialnya. Jika masih kurangnya kesadaran di dalam dirinya maka pendidikan yang didapatnya hanya akan membuatnya menjadi sombong dan cenderung egois”.

“Menurut saya semakin tinggi pendidikan seseorang di masyarakat maka akan lebih mendedikasikan dirinya sebagai sosok yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya atau perbuatan yang dilakukan, berkomitmen tinggi, menghargai waktu dan memegang kukuh prinsip hidup dan penuh sadar”

“Integritas dirinya (seperti rasa tanggung jawab, komitmen, menghargai waktu, dan berpegang pada prinsip hidup yang benar) tidak selalu bergantung pada tingkat pendidikannya, ada yang tingkat pendidikannya tinggi tapi tidak ada integritas, ada juga yang tidak berpendidikan tetapi dia memiliki integritas yang tinggi, semuanya tergantung dengan diri masing-masing, tapi ada juga yang berpendidikan tinggi dan memiliki integritas yang tinggi”

“Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, pada umumnya diikuti oleh tanggung-jawab yang semakin besar sehingga integritas dirinya semakin meningkat.”

Sedangkan sebanyak 37,9% responden berpendapat BENAR bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang malah membuat integritas seseorang menjadi semakin rendah. Hal ini didasari beberapa faktor seperti keangkuhan, kurangnya rasa empati, dan kurangnya kesadaran diri. Berikut ada beberapa alasan dari mereka yang mendukung hal ini:

“Banyakan ego, merasa sudah pendidikannya tinggi.”

“Mereka hanya belajar tahu tapi tidak belajar mengetahui.”

“Banyak lupa pada janjinya.

“Mungkin tidak semua namun rata” karena merasa lebih tinggi tingkat pendidikan merasa paling tahu dan terkadang memandang rendah pendapat orang” yang tingkat pendidikan yg lebih rendah, nilai dari seseorang bukan semata dari pendidikan yang dia capai.

“Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, seharusnya justru membuat seseorang lebih sadar akan hak dan kewajibannya untuk berkontribusi terhadap pengembangan dirinya pribadi maupun dunia sekitarnya.

 

Dari berbagai pendapat para pembaca, ada hal menarik yang mungkin terlupakan oleh kita selama menempuh pendidikan, yakni adanya pembangunan karakter yang seharusnya turut dimasukkan ke dalam proses pendidikan. Membangun karakter bukanlah perkara sederhana. Seorang filsuf legalisme bernama Guǎn Zhòng管仲 (720-645 SM), dalam kitab Quan Xiu 權修 11 mengatakan bahwa untuk membesarkan sebuah pohon butuh sepuluh tahun, sedangkan butuh seratus tahun untuk mendewasakan manusia. Bahwa membangun karakter dalam proses pendidikan juga adalah satu keperluan guna menghasilkan peradaban manusia yang mumpuni.

Paradigma pendidikan progresivisme perlu ditanamkan, bahwasanya di Indonesia kini proses pendidikan kurang memperhatikan bahwa proses juga penting daripada sekedar hasil. Seharusnya tidak mengapa bila dalam prosesnya dirasa kurang memuaskan, maka pendidikan itu ditempa lebih lama. Daripada memaksakan sesuatu agar matang lebih cepat dari yang seharusnya. Misalkan saja seorang anak yang memiliki karakter moral kurang baik dan banyak masalah kedisiplinan, secara logika bila hasil akademiknya bagus maka perlu tetap dipertimbangkan kenaikan kelasnya agar ke depannya bisa menjadi bahan evaluasi bagi yang lainnya.

Masalahnya adalah, kebanyakan dari para pendidik kita kurang memperhatikan ke sini, mereka menganggap bahwa sebatas akademik cukup sudah. Padahal kalau kita mengacu pada proses, itu sudah gagal. Anak hanya bisa menyerap ilmu tetapi tidak bisa menyerap perilaku moral-etika yang baik. Fungsi Ing Ngarso Sung Tulada (Di depan memberi teladan) dan Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah membangun karsa) nya tidak jalan. Hanya satu fungsi yang jalan Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan) saja.

Meskipun diberi berbagai stimulus dorongan, namun tanpa adanya suri teladan dan pendampingan, ini akan membuat proses pendidikan menjadi luput, bahkan sekedar membangun moral rasanya sulit. Bisa dibayangkan bagaimana banyak orang memiliki keterampilan dan pendidikan tinggi namun pada akhirnya menyalahgunakan keilmuannya, bukankah ini bentuk kegagalan pendidikan pada akhirnya?

 

Daftar Pustaka:

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/07/04/integritas-pendidikan-nasional-rendah. Diakses 31 Juli 2023.

Huberts, L. W. J. C. (2014). The integrity of governance: What it is, what we know, what is done and where to go. Springer.

Huberts, L. W. J. C. (2018). Integrity: What it is and why it is important. Public Integrity, 20(sup1), S18–S32. https://doi.org/10.1080/10999922.2018.1477404

https://ctext.org/guanzi/quan-xiu. Diakses 31 Juli 2023.

Adegunawan, Suyena (陳書源 Tan Su Njan). 2018. Kompilasi 《四书》- Si Shu – Empat Kitab Klasik. Bandung. TSA.

Butuh bantuan?