Jejak Pendapat: Dilematika Antara Mendukung Lembaga Pendidikan Atau Tempat Ibadah

Home » E-jurnal » Jejak Pendapat: Dilematika Antara Mendukung Lembaga Pendidikan Atau Tempat Ibadah

Dilihat

Dilihat : 28 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
1 Maret03 JEJAK PENDAPAT maja pic

 

Dirikanlah rumah-rumah pendidikan sehingga rakyat dapat mengenal tugas berbakti dan rendah hati, dengan demikian niscaya tidak sampai terjadi orang yang sudah beruban masih harus memikul barang di tengah jalan’ (Mencius 孟子372 SM – 289 SM/Bingcu IA: 5)

Setangkaidupa.com mengadakan jejak pendapat  melalui media akun Facebook Majaputera Karniawan di kalangan teman-teman yang menganut paham kebijaksanaan timur (sementara cakupannya: Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme, dan ajaran tradisional Tionghoa). Survey dimulai pada 13 Februari 2022 pukul 20:00 dan berakhir 15 Februari 2022 pukul 20:00. Guna menjaring data lebih banyak, survey juga disebar ke berbagai grup bertemakan kebijaksanaan timur.

Pertanyaan yang diajukan adalah “Lebih senang menyokong lembaga pendidikan agama (Sekolah/kampus) atau Wihara/Cetiya/Kelenteng?”. Diikuti 30 responden dari berbagai grup kebijaksanaan timur hasilnya didapati data sebagai berikut:

67% responden memilih menyokong lembaga pendidikan formal dengan alasan bahwa urgensi pendidikan memang sangat penting bagi keberlangsungan generasi berikutnya, karena tidak semua sekolah bisa mendapatkan pendidikan agama Buddha, Konghucu, Tridharma,  ataupun Taoisme dan tradisi tionghoa. Mereka berpandangan bahwa dengan pendidikan maka kader-kader muda akan tumbuh dan bisa mendapatkan penghidupan yang layak nantinya.

20% responden memilih menyokong wihara/cetiya/kelenteng dengan tujuan selain mendapatkan karma baik dan berkah dari sembahyang kepada dewa dewi (Paisin), juga merasa dengan dibangunnya wihara/cetiya/kelenteng akan ada kegiatan edukasi keagamaan seperti kebaktian dan sekolah minggu bagi generasi muda.

13% responden memilih abstain dengan berbagai alasan: Ada yang berpandangan bahwa keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa terpisahkan, ada yang berpandangan menyokong yang mana saja yang penting pengelolaan dana & realisasinya benar, dan ada juga mengakui bahwa keduanya adalah pilihan yang sulit.

Dari hasil survey ini, kesadaran umat mulai menguat akan pentingnya pendidikan, walaupun fakta di lapangan bicara bahwa lebih banyak wihara/cetiya/kelenteng yang telah terbangun daripada sekolah/kampus bernafaskan tradisi timur seperti Buddhis, Konghucu, Tridharma, ataupun yang lainnya. Meskipun mungkin kesadaran masyarakat kita terhadap pentingnya eksistensi sekolah dan lembaga pendidikan formal  sedikit terlambat, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pendidikan sebagai investasi jangka menengah dan panjang tidak hanya dilihat oleh para filsuf timur saja, sejak kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang hancur karena di Bom oleh Amerika pada tahun 1945, kaisar Hirohito bertanya ‘Berapa jumlah guru yang tersisa? Ia pun menyambung bahwa ‘Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka?’ (Dalam Yunanda, 2020)

Apa urgensinya mendidik dan memberi pelajaran bagi generasi mendatang? Nampaknya sama urgensinya dengan memberikan vaksinasi lengkap pada balita agar tidak menanggung penyakit mematikan di kemudian hari! Konfusius menyatakan bahwa belajar tanpa berpikir itu sia-sia, namun berpikir tanpa belajar itu berbahaya! (Lun Gi II: 15). Setidaknya menurut Konfusius (Lun Gi XVII:8) ada 6 perkara cacat jika seseorang tidak belajar ataupun mendapatkan pengajaran pengetahuan dan moralitas dengan baik:

  1. Suka cinta kasih tetapi tidak belajar hasilnya bodoh
  2. Suka kebijaksanaan tetapi tidak belajar hasilnya memiliki pikiran yang kalut (skeptis & mumet)
  3. Suka sifat loyalitas (dapat dipercaya) tetapi tidak belajar hasilnya menyusahkan diri sendiri
  4. Suka kejujuran tetapi tidak belajar hasilnya menyakiti hati orang lain
  5. Suka keberanian tetapi tidak belajar hasilnya mengacau (berbuat onar)
  6. Suke bersifat keras tetapi tidak belajar hasilnya ganas (beringas).

Maka konfusius dengan lantangnya berkata ‘Ada pendidikan, tiada perbedaan’ (Lun Gi XV: 39). Memang kata-kata Bingcu di awal ada benarnya karena hanya dengan pendidikan pengetahuan dan moral kita bisa mengatasi kekosongan pengetahuan dan nilai moral pada generasi seterusnya. Lantas apa yang perlu disokong? Lembaga pendidikannya atau tempat ibadahnya?

Yang perlu disokong adalah “Kualitas Pendidikannya” bukan sekedar lembaga pendidikan atau tempat ibadahnya. Lah kok gitu? Begini, pendidikan dalam memberi pertumbuhan ilmu dan moral bukan sesuatu yang bisa diperoleh secara pragmatis, kini belajar bisa dimana saja tanpa terbatas lokasi, tetapi perlu proses yang berkepanjangan dan hasil pencapaian bisa berbeda waktu tergantung bagaimana kemampuan peserta didik mencapai ke sana. Hanya saja akan sangat menyedihkan jika kita mampu membangun lembaga pendidikan yang hanya sekedar mampu meluluskan dan memberikan legitimasi kelulusan berupa ijazah tanpa mampu mengajarkan dan menjamin penguasaan ilmu dan moral yang baik pada peserta didiknya!

Sebuah kritik pedas diluncurkan oleh Ivan Illich terhadap pendidikan konvensional dalam karyanya ‘Deschooling society’ baginya ijazah hanya legitimasi seseorang pernah lulus belajar bukan jaminan orang tersebut pernah berpikir! Ada kalanya orang yang memiliki keterampilan lebih baik dari luar sekolah (tanpa ijazah) tidak mendapatkan perlakuan yang layak atas kepakarannya disbanding yang memiliki ijazah, seakan-akan ijazah menjadi figur otoritas dalam keilmuan, padahal hanya sebatas legalitas bukan jaminan penguasaan ilmu tersebut! (Dalam Julian, 2021)

Maka dibandingkan sekedar membangun lembaga pendidikan juga harus membangun kualitas kurikulum dan pendidiknya, sehingga hasil didikan dan lulusannya menjadi orang yang kompeten. Ada satu pepatah mengatakan menanam pohon mungkin butuh waktu sepuluh tahun tetapi membangun karakter membutuhkan waktu seumur hidup, memang sekolah formal hanya menjangkau setidaknya 12-20 tahun tetapi seharusnya dengan waktu tersebut cukup untuk menjadi bekal bagi pengembangan manusia selama sisa hidupnya dan bagi generasi berikutnya, jangan sampai lulus sekolah/kuliah tidak mendapat apa-apa sama sekali selain selembar kertas!

Jadi pilih membangun sekolah atau wihara? Mungkin ada benarnya pendapat mereka yang abstain bahwa “Yang Penting Benar!”. Tetapi disatu sisi keberadaan lembaga pendidikan juga penting, karena biar bagaimanapun kita tidak terlepas dari kebutuhan akan legalitas pendidikan yang diakui, jadi kita perlu juga membangun lembaga-lembaga pendidikan dan mempersiapkan guru/pendidik terbaik bagi lulusan kita kelak. Harapannya generasi berikutnya bisa mencapai berkah utama berupa pengetahuan luas, memiliki keterampilan, dan moralitas yang baik (KP6. Manggala Sutta).

Dikarenakan sekarang sudah terlanjur banyak wihara/cetiya/kelenteng yang dibangun, maka tidak ada salahnyan diaktifkan kegiatan pendidikan dan penyuluhan umatnya, seperti sekolah minggu, kelas kerohanian, ekstrakulikuler, ataupun kebaktiannya, jadi umat bukan hanya sekedar sembahyang tetapi bisa saja tempat ibadah sekaligus balai belajar, dimana umat bisa mendapat pelatihan pengetahuan dan budi pekerti atau bahkan sekolah paket barangkali sehingga bisa dilanjutkan ke tingkat pendidikan formal yang lebih baik tanpa harus menyia-nyiakan sumber daya yang ada.

Semoga kelak tidak lagi terdengar adanya orang yang sepuh atau tua tetapi tidak mendapat pengajaran yang cukup sehingga hanya dagingnya yang bertambah gemuk tetapi kebijaksanaannya tidak bertambah (Thag18.1. Anandatheragatha).

 

Daftar Pustaka

Julian, Ariestedes. 2021. Merefleksikan Ulang Hakikat Pendidikan dan Sekolah Modern bersama Ivan Illich. https://bestariedu.com/featured/merefleksikan-ulang-hakikat-pendidikan-dan-sekolah-modern-bersama-ivan-illich/. Diakses Maret 2022.

MATAKIN. 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Suttacentral.net (Online legacy version). Theragatha. http://www.legacy.suttacentral.net/thag Diakses Maret 2022.

Yunanda, Arif. 2020. Kaisar Hirohito: Berapa Jumlah Guru Tersisa?. https://www.semangatnews.com/kaisar-hirohito-berapa-jumlah-guru-tersisa/. Diakses Maret 2022.

Butuh bantuan?