Review Buku: Agama Di Era Google

Home » E-jurnal » Review Buku: Agama Di Era Google

Dilihat

Dilihat : 151 Kali

Pengunjung

  • 3
  • 143
  • 571
  • 278,670
agama di era google

Review Buku: Agama Di Era Google

Oleh: Tim Setangkaidupa.com

 

Informasi buku:

  • Judul: Agama Di Era Google Review 11 Akademisi dan Tokoh atas Pemikiran DENNY JA Soal
    “Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Kita Bersama”
  • Penulis: Musdah Mulia, Komaruddin Hidayat, F. Budi Hardiman, Jo Priastana, Reza
    A.A Wattimena, Chandra Setiawan, Kadek Hemamalini, Kadek Hemamalini,
    Martin Lukito Sinaga , Budhy Munawar-Rachman, Luthfi Assyaukanie
  • Editor: Anick HT
  • Epilog: Chappy Hakim
  • Penerbit: PT Cerah Budaya Indonesia (Mei 2023)

“Agama di Era Google: Review 11 Akademisi dan Tokoh atas Pemikiran Denny JA” merupakan sebuah karya kolektif yang mendiskusikan gagasan reflektif dan transformatif dari Denny JA mengenai masa depan agama di tengah kemajuan teknologi dan sains. Buku ini disunting oleh Anick HT dan diterbitkan oleh PT Cerah Budaya Indonesia pada Mei 2023. Melalui tulisan dari 11 cendekiawan ternama, buku ini mengupas tesis utama Denny JA yang menyatakan bahwa agama sedang bertransformasi dari institusi dogmatis yang kaku menjadi “warisan kultural milik bersama”.

A. Sinopsis Buku:

Buku ini berawal dari kegelisahan intelektual Denny JA melihat tren penurunan religiositas global di era modern, yang ia dukung dengan data riset dari lembaga kredibel seperti World Happiness Index dan Religiosity Index. Denny JA memperkenalkan konsep “Iman Berbasis Riset,” di mana keimanan seseorang diuji melalui temuan ilmu pengetahuan. Jika sebuah sistem kepercayaan tidak lagi memadai secara keilmuan, maka ia cenderung ditinggalkan. Padahal agama seharusnya dilihat sebagai warisan kultural bersama.

Denny JA (dkk) membagi perjalanan agama dalam tiga gelombang besar:

  1. Gelombang Pertama: Agama sebagai panduan hidup berbasis mitologi.

  2. Gelombang Kedua: Agama sebagai panduan melalui otoritas wahyu.

  3. Gelombang Ketiga: Spiritualitas baru abad ke-21 yang berbasis pada riset empirik.

Pemikiran sentral Denny JA adalah bahwa agama tidak akan punah, namun fungsinya akan bergeser. Agama di era Google tidak lagi menjadi institusi yang memaksa atau memonopoli kebenaran melalui tafsir tunggal yang dogmatis (organized religion). Sebaliknya, agama dipandang sebagai “harta karun budaya” yang kaya akan tradisi, estetika, dan nilai-nilai moral universal. Dalam pandangan ini, siapa pun—termasuk penganut agama lain, agnostik, hingga ateis—dapat merayakan ritual agama (seperti Natal, Ramadan, atau meditasi Buddhis) sebagai bagian dari warisan budaya manusia.

Inti dari spiritualitas baru ini adalah apa yang disebut Denny sebagai “Spiritual Blue Diamonds” (Tiga Berlian Biru), yakni tiga nilai utama: (1) Power of giving (kekuatan memberi/berderma). (2) The oneness (rasa bersatu dengan semesta) dan (3) Compassion (kasih sayang dan pengampunan).

 

B. Review 11 Tokoh

Buku ini menjadi sangat kaya karena menghadirkan dialektika dari berbagai latar belakang ahli, mulai dari teolog, filsuf, hingga aktivis hak asasi manusia, di antaranya:

1. Perspektif Kemanusiaan dan Inklusivitas – Musdah Mulia memberikan apresiasi tinggi terhadap cara Denny JA memosisikan agama untuk “memanusiakan manusia”. Ia menilai Denny berhasil keluar dari belenggu teologi kaku dan hukum fikih tradisional yang seringkali eksklusif. Musdah sepakat bahwa pesan moral agama bersifat universal dan tidak dimonopoli oleh satu kelompok saja.

2. Agama sebagai Dunia Makna – F. Budi Hardiman memberikan catatan penting dengan membedakan antara “dunia fakta” (sains) dan “dunia makna” (agama). Ia berpendapat bahwa agama tidak perlu berpura-pura menjadi sains untuk dianggap benar. Agama menyingkapkan kebenaran eksistensial yang melampaui data laboratorium. Hardiman juga memuji sikap “relaks” yang ditawarkan Denny JA dalam menghadapi pluralisme, di mana perbedaan tafsir tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi iman.

3. Kritik terhadap Dogmatisme – Reza A.A. Wattimena melihat pemikiran Denny sebagai “Agama Pencerahan”. Ia mengkritik bangsa yang terlalu “agamis” dalam arti menuhankan ritual tapi gagal dalam kemajuan ekonomi dan kebahagiaan sosial. Baginya, melihat agama sebagai warisan budaya adalah cara agar manusia tidak lagi terpenjara oleh masa lalu dan bisa menata hidup bersama secara lebih rasional.

4. Integrasi Sains dan Spiritualitas – Budhy Munawar-Rachman dan Jo Priastana menyoroti pentingnya dialog antara sains dan iman. Jo melihat keselarasan antara gagasan Denny dengan upaya Dalai Lama dalam mempertemukan ajaran Buddha dengan sains modern. Budhy menegaskan bahwa masa depan peradaban memerlukan perpaduan antara kecerdasan sains ala Einstein dan kearifan spiritual ala Buddha Dharma.

5. Konteks Sosial dan Politik – Luthfi Assyaukanie dan Komaruddin Hidayat mendiskusikan bagaimana agama seringkali diperalat untuk kepentingan politik identitas di Indonesia. Pemikiran Denny JA dianggap sebagai antitesis terhadap radikalisme dan fanatisme beragama. Dengan merelatifkan klaim kebenaran mutlak dan mengedepankan inklusi sosial, agama dapat berfungsi kembali sebagai perekat sosial dan sumber kedamaian.

“Agama di Era Google” adalah diskursus bagaimana spiritualitas tetap bisa bertahan dan relevan di tengah banjir informasi dan kecanggihan teknologi. Buku ini menawarkan jalan tengah: tetap beragama dengan cara yang cerdas, riset yang kuat, dan hati yang terbuka untuk merayakan keberagaman sebagai satu spesies Homo Sapiens penghuni satu bumi yang sama. Buku ini menyimpulkan bahwa di era Google, agama yang akan “awet” bukanlah agama yang menutup diri dalam dogma, melainkan agama yang mampu memberikan makna bagi kebahagiaan manusia dan menjadi milik budaya bersama umat manusia.

Download bukunya di arsip ebook setangkaidupa:

https://drive.google.com/file/d/1xPnKLObN3swO6gO97XBvlH5g2FWpjBKR/view?usp=drive_link

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?