Informasi Buku:
- Judul Buku: HEWAN DAN RITUS AGAMA: Tanggapan Terhadap Denny JA
- Editor: Anick HT
- Kontributor: Musdah Mulia, Albertus M. Patty, Ahmad Najib Burhani, Mohamad Guntur Romli, Imam Nahe’i, Reza A.A. Wattimena, Husein Muhammad, Jo Priastana, Moch. Nur Ichwan, Budhy Munawar-Rachman, Ahmadie Thaha.
- Penerbit: Cerah Budaya International (CBI), 2025.
- ISBN: 978-1-966391-41-8.
Buku ini berawal dari sebuah tulisan reflektif Denny JA yang mempertanyakan relevansi penyembelihan hewan secara massal di masa depan, buku ini mengumpulkan tanggapan berbagai perspektif dari para cendekiawan dan pemikir progresif di Indonesia berkaitan tulisan Denny JA terkait penyembelihan hewan dalam ritus keagamaan. Isunya bukan sekadar boleh atau tidaknya menyembelih hewan, melainkan bagaimana agama ber-evolusi di tengah kesadaran global akan hak asasi hewan, krisis ekologi, dan kebutuhan sosial yang kian kompleks.
A. Sinopsis
Buku ini dibuka dengan pengantar editor yang mengenang gejolak di Jakarta pada tahun 2014 saat Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mencoba menertibkan tempat pemotongan kurban demi kesehatan dan ketertiban umum. Peristiwa itu menjadi cermin betapa sensitifnya isu kurban jika dibenturkan dengan regulasi modern.
Bagian inti buku ini bermula dari “Artikel Pemantik” karya Denny JA yang terinspirasi oleh esai Shahid Ali Muttaqi, An Islamic Perspective Against Animal Sacrifice. Denny JA mengajukan tesis bahwa di tahun 2070, kesadaran manusia terhadap kesadaran hewan (animal consciousness) akan membuat ritual penyembelihan massal semakin dipertanyakan.
Buku ini kemudian menyajikan sebelas artikel tanggapan dari berbagai latar belakang ahli. Ada yang melihatnya dari sudut pandang teologi Islam progresif (Musdah Mulia), perbandingan agama (Albertus M. Patty), perspektif sosiologis dan riset (Ahmad Najib Burhani), perspektif etika welas asih-hak asasi hewan dan pandangan filsafat Buddhisme (Jo Priastana), hingga tinjauan ekologis dan lingkungan (Budhy Munawar-Rachman). Benang merah dari buku ini adalah upaya mencari esensi kurban yang tidak melulu harus mewujud dalam darah hewan, melainkan dalam bentuk pengabdian yang lebih relevan bagi kemanusiaan dan alam.
B. Inti Pembahasan
Sejumlah pembahasan dilakukan oleh para kontributor, di antaranya ada lima poin pokok, yakni:
1. Reinterpretasi Kisah Ibrahim/Abraham
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pembacaan ulang terhadap kisah Nabi Ibrahim. Denny JA dan beberapa kontributor menekankan bahwa pesan utama dari kisah tersebut bukanlah perintah membunuh, melainkan dedikasi moral dan kepatuhan mutlak kepada kebenaran di atas ego pribadi. Musdah Mulia menegaskan bahwa kurban adalah upaya mendekatkan diri kepada Tuhan (qaraba), yang secara substansial merupakan ekspresi ketakwaan, bukan sekadar fisik daging dan darah. Albertus M. Patty juga memberikan perspektif dari tradisi Kristiani, di mana pengorbanan hewan telah lama bertransformasi menjadi simbol pengorbanan spiritual dan pelayanan kepada sesama.
2. Hak Asasi Hewan dan Kesadaran Hewan (Animal Rights & Consciousness)
Buku ini mengeksplorasi temuan sains modern bahwa hewan memiliki kesadaran, perasaan, dan kemampuan untuk menderita. Mohamad Guntur Romli mengutip filosof Jeremy Bentham, menyatakan bahwa standar kemanusiaan ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan makhluk yang bisa menderita. Kesadaran akan animal rights dianggap sebagai gelombang baru yang akan memaksa kaum beragama untuk melihat kembali tradisi mereka secara lebih beradab, semua itu mewujudkan iklim agama yang mengedukasi, bukan hanya agama yang sekedar menselebrasi.
3. Dimensi Ekologi dan Krisis Lingkungan
Budhy Munawar-Rachman memberikan data yang mengkhawatirkan tentang dampak peternakan massal terhadap emisi gas rumah kaca dan deforestasi. Dalam konteks ini, kurban tanpa hewan dipandang sebagai langkah konkret agama dalam mendukung kelestarian bumi. Transformasi kurban menjadi bantuan pendidikan atau kesehatan dianggap lebih berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan.
4. Perubahan Fikih dan Kontekstualisasi
Imam Nahe’i dan Musdah Mulia mendorong adanya pergeseran dari Fiqh al-Udlhiyyah (fikih penyembelihan) ke Fiqh al-Qurban (fikih pengorbanan secara umum). Mereka berargumen bahwa hukum Islam bersifat dinamis dan harus menyesuaikan dengan illat (alasan hukum) yang baru, yakni kebutuhan masyarakat saat ini yang mungkin lebih membutuhkan dana pendidikan dan pengentasan kemiskinan daripada konsumsi daging sesaat.
5. Animals Right and Compassion Ethics
Jo Priastana menekankan bahwa dalam pandangan filsafat Buddhis, manusia dan binatang berada dalam satu mata rantai kehidupan yang sama, yaitu samsara (lingkaran tumimbal lahir). Binatang dianggap sebagai makhluk hidup yang memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi manusia, begitu pula sebaliknya, di mana perilaku buruk manusia dapat menyebabkan kelahiran kembali di alam binatang. Ia berpendapat bahwa dasar hubungan antara manusia dan hewan bukanlah nalar, melainkan perasaan dan kemampuan untuk menderita. Mengutip kisah Sang Buddha yang menolong anak biri-biri yang terluka, ia menekankan pentingnya sikap welas asih terhadap semua makhluk hidup tanpa kecuali.Melalui istilah-istilah dalam Kanon Pali seperti satto, bhuto, jiva, dan pano, ia menunjukkan bahwa tradisi spiritual sejak lama telah mengakui keberadaan binatang sebagai makhluk bernyawa yang memiliki hak untuk hidup. Hal ini memperkuat gaya hidup vegetarian sebagai upaya menjamin hak hidup binatang dan menghindari pembunuhan. Jo Priastana menawarkan pergeseran makna kurban dari “pengorbanan makhluk” menjadi “pengorbanan keakuan” atau ego manusia. Menurutnya, spiritualitas yang sejati menekankan pada penegakan moral dan pengendalian diri, bukan pada praktik ritual yang menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain. Ia kemudian memberikan paradigma Buddhis bahwa berdasarkan ajaran Buddha, tingkatan tertinggi adalah mereka yang berusaha tidak menyiksa dirinya sendiri maupun makhluk lain (bahkan binatang).
C. Kesimpulan
Hewan Dan Ritus Agama adalah buku yang mengajak pembacanya untuk berpikir kritis tentang cara mereka beragama. Buku ini menawarkan sekaligus mengajak pembacanya bahwa dalam hal beragama hendaknya mampu bermoderasi bahkan kepada hewan sekalipun (sebagai sesama mahluk tuhan), tidak terkekang narasi antroposentris yang menyebabkan kehilangan kepekaan terhadap rasa sakit makhluk lain, dan tidak boleh menutup mata terhadap aneka krisis yang ada di planet ini. Buku ini lebih menekankan kurban yang berkesadaran bukan sekedar selebrasi, dalam arti ‘penyembelihan’ terhadap sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia—ketamakan, ketidakpedulian, dan egoisme—demi mendekatkan diri pada Tuhan melalui pengabdian kepada semua makhluk di alam semesta (yang juga adalah karya ciptaan Tuhan dan sesama mahluk Tuhan).
Download bukunya di sini: https://drive.google.com/file/d/1UaJj3CbWzXwLbrgENQUbR8zYTKNZi5BB/view?usp=sharing