Sticking to the Most Fundamental Principles – Melekat pada Prinsip Paling Fundamental

Home » Uncategorized » Sticking to the Most Fundamental Principles – Melekat pada Prinsip Paling Fundamental

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
1 Pic Sticking

Oleh: Xie Zheng Ming 谢峥明

 

Upon hearing the news of Chen Chengzi’s assassination of Duke Jian, Confucius felt a deep sense of anger and unease. As a Confucian scholar loyal to rituals and principles of righteousness, he highly valued the principles of loyalty between ruler and minister and justice. He regarded rituals as the foundation of social stability, and therefore could not accept any behavior that violated these rituals. In order to uphold the ethical standards of the relationship between ruler and minister, Confucius decided to request Duke Ai of Lu to send troops to avenge Duke Jian.

Setelah mendengar berita pembunuhan Adipati Jian oleh Chen Chengzi, Konfusius merasakan kemarahan dan kegelisahan yang mendalam. Sebagai seorang sarjana Konfusianisme yang setia pada ritus dan prinsip kebenaran, ia sangat menjunjung tinggi prinsip kesetiaan antara penguasa dan menteri serta keadilan. Ia menganggap ritual (termasuk di dalamnya prinsip etika, red) sebagai landasan stabilitas sosial, dan oleh karena itu tidak dapat menerima perilaku apa pun yang melanggar ritual tersebut. Untuk menjunjung standar etika hubungan antara penguasa dan menteri, Konfusius memutuskan untuk meminta Adipati Ai dari Lu mengirimkan pasukan untuk menghukum Adipati Jian.

However, the support Confucius expected did not materialize as he had hoped. Duke Ai did not possess actual power or decision-making authority; all power was concentrated in the hands of the three powerful families of Lu. Duke Ai told Confucius to seek the advice of these noble families. Although Confucius knew that this was a way for Duke Ai to avoid taking responsibility, he still went to seek the support of the three families. However, they refused his request. Faced with this situation, Confucius felt helpless and could only console himself by saying that he had done his utmost, but had not succeeded.

Namun, dukungan yang diharapkan Konfusius tidak terwujud sesuai harapannya. Adipati Ai tidak memiliki kekuasaan atau wewenang pengambilan keputusan yang sebenarnya; semua kekuasaan terkonsentrasi di tangan tiga keluarga kuat Lu. Adipati Ai menyuruh Konfusius untuk meminta nasihat dari keluarga bangsawan tersebut. Meskipun Konfusius tahu bahwa ini adalah cara Adipati Ai menghindari tanggung jawab, dia tetap mencari dukungan dari ketiga keluarga. Namun, mereka menolak permintaannya. Menghadapi situasi ini, Konfusius merasa tidak berdaya dan hanya bisa menghibur dirinya dengan mengatakan bahwa ia telah berusaha sekuat tenaga, namun belum berhasil.

Confucius’ action of requesting military action was not only about upholding the principles of respecting the ruler, upholding reputation, and rectifying justice, but it was also important for him to use this event to alert Duke Ai and the three families to the importance of maintaining order. He hoped to remind Duke Ai that if he continued to allow the powerful family of Ji to grow, the society would fall into the same chaos as Duke Jian’s assassination. By reporting the matter to the three families, he intended to remind them that as ministers, if they violated the norms of ministerial etiquette, they might face the danger of being attacked by other vassal states in the future. Unfortunately, his efforts did not receive enough attention, and his warnings did not produce any practical results.

Tindakan Konfusius yang meminta tindakan militer tidak hanya tentang menjunjung tinggi prinsip menghormati penguasa, menjunjung tinggi reputasi, dan meluruskan keadilan, tetapi penting juga baginya untuk menggunakan peristiwa ini untuk mengingatkan Adipati Ai dan ketiga keluarga akan pentingnya mempertahankan perintah. Dia berharap untuk mengingatkan Adipati Ai bahwa jika dia terus membiarkan keluarga Ji yang berkuasa berkembang, masyarakat akan jatuh ke dalam kekacauan yang sama seperti pembunuhan Adipati Jian. Dengan melaporkan hal tersebut kepada ketiga keluarga tersebut, ia bermaksud mengingatkan mereka bahwa sebagai menteri, jika melanggar norma etika menteri, mereka mungkin akan menghadapi bahaya diserang oleh negara bawahan lainnya di kemudian hari. Sayangnya, usahanya tidak mendapat perhatian yang cukup, dan peringatannya tidak membuahkan hasil praktis.

Nevertheless, Confucius’ unwavering commitment to the most fundamental principles still holds great value. He reminds us that in any situation, society should adhere to a primary principle that must not be violated and must be upheld. In the context of his time, the principle of the relationship between ruler and minister was such an absolute principle. If this principle was lost, the country would be destroyed, and all order would descend into chaos. It was for this reason that Confucius resolutely called for military action against Chen Chengzi.

Meskipun demikian, komitmen Konfusius yang tak tergoyahkan terhadap prinsip-prinsip paling mendasar/fundamental masih mempunyai nilai yang besar. Ia mengingatkan kita bahwa dalam situasi apapun, masyarakat harus berpegang pada prinsip utama yang tidak boleh dilanggar dan harus dijunjung tinggi. Dalam konteks zamannya, prinsip hubungan antara penguasa dan menteri merupakan prinsip yang begitu mutlak. Jika prinsip ini hilang, negara akan hancur, dan segala ketertiban akan berubah menjadi kekacauan. Karena alasan inilah Konfusius dengan tegas menyerukan tindakan militer terhadap Chen Chengzi.

Whether as an organization or as individuals, we should adhere to the most fundamental principles. Regardless of the circumstances, this basic principle should never be abandoned. Once this fundamental principle is lost, it will lead to the failure of individuals or organizations. In today’s society, we face increasing interference and temptations, making it all the more necessary to uphold the spirit of principles. Otherwise, if we abandon our principles, we will lose the guidelines that govern our behavior, and if everyone does the same, the whole society will descend into chaos.

Baik sebagai sebuah organisasi atau sebagai individu, kita harus mematuhi prinsip-prinsip yang paling mendasar. Apapun keadaannya, prinsip dasar ini tidak boleh ditinggalkan. Jika prinsip dasar ini hilang maka akan mengakibatkan kegagalan individu atau organisasi. Dalam masyarakat saat ini, kita menghadapi semakin banyak campur tangan dan godaan, sehingga menjunjung tinggi semangat prinsip menjadi semakin penting. Jika tidak, jika kita mengabaikan prinsip-prinsip kita, kita akan kehilangan pedoman yang mengatur perilaku kita, dan jika semua orang melakukan hal yang sama, seluruh masyarakat akan mengalami kekacauan.

Chen Chengzi’s assassination of Duke Jian was a serious crime and a violation of moral principles. It went against the rituals and norms of propriety. Chen Chengzi was a descendant of Tian Chengzi in history, and under his rule and the rule of his descendants, the political power of the Qi state was taken over, leading to a complete seizure of power from the descendants of Duke Tai Gong. Killing one’s ruler as a subject is an extremely serious matter. Therefore, as a retired scholar, Confucius bathed and changed his clothes before meeting with Duke Ai of Lu, with utmost solemnity, in the hope of persuading him to attack the Qi state to avenge Duke Jian and restore justice.

Pembunuhan Chen Chengzi terhadap Adipati Jian adalah kejahatan serius dan pelanggaran prinsip moral. Itu bertentangan dengan ritual dan norma kesopanan. Chen Chengzi adalah keturunan Tian Chengzi dalam sejarah, dan di bawah pemerintahannya dan pemerintahan keturunannya, kekuasaan politik negara Qi diambil alih, yang menyebabkan perebutan kekuasaan sepenuhnya dari keturunan Adipati Tai Gong. Membunuh penguasa sebagai subjek adalah masalah yang sangat serius. Oleh karena itu, sebagai pensiunan sarjana, Konfusius mandi dan mengganti pakaiannya sebelum bertemu dengan Adipati Ai dari Lu, dengan penuh kekhidmatan, dengan harapan dapat membujuknya untuk menyerang negara Qi untuk membalas dendam Adipati Jian dan memulihkan keadilan.

Confucius hoped to use this incident as a warning to Duke Ai of Lu and the three influential families. However, faced with the realities of power struggles, Confucius still upheld his duty and did not dare to neglect it. Despite knowing that it was an impossible task to achieve, he still did his best. This is a shining example of Confucius’ adherence to principles, integrity, and conscience.

Konfusius berharap untuk menggunakan kejadian ini sebagai peringatan kepada Adipati Ai dari Lu dan tiga keluarga berpengaruh. Namun dihadapkan pada kenyataan perebutan kekuasaan, Konfusius tetap menjunjung tinggi tugasnya dan tidak berani mengabaikannya. Meski tahu bahwa itu adalah tugas yang mustahil untuk dicapai, dia tetap melakukan yang terbaik. Ini adalah contoh cemerlang dari kepatuhan Konfusius terhadap prinsip, integritas, dan hati nurani.

Whether on an organizational or individual level, we must adhere to the most fundamental principles. Regardless of when and where, no matter what circumstances we face, this basic principle must not be abandoned. If we forsake this principle, we will lead to the failure of individuals or organizations. In today’s society, the temptations and distractions we face are increasing, which is why we need the spirit of upholding principles even more. If we abandon our principles, we will lose the guidelines that govern our behavior. If everyone does this, the whole society will descend into chaos.

Baik pada tingkat organisasi atau individu, kita harus mematuhi prinsip-prinsip paling mendasar. Kapan pun dan di mana pun, keadaan apa pun yang kita hadapi, prinsip dasar ini tidak boleh ditinggalkan. Jika kita mengabaikan prinsip ini, kita akan menyebabkan kegagalan individu atau organisasi. Dalam masyarakat saat ini, godaan dan gangguan yang kita hadapi semakin meningkat, oleh karena itu kita semakin membutuhkan semangat menjunjung tinggi prinsip. Jika kita mengabaikan prinsip-prinsip kita, kita akan kehilangan pedoman yang mengatur perilaku kita. Jika semua orang melakukan hal ini, maka seluruh masyarakat akan terjerumus ke dalam kekacauan.

The event of Chen Chengzi assassinating Duke Jian prompts us to reflect on whether we are loyal to our principles and values. Regardless of the difficulties we may encounter, even if we face resistance, we should, like Confucius, adhere to our principles and act in the name of justice and the right path. Sticking to the most fundamental principles is not only for our own conscience and moral behavior but also for the stability and progress of society. Only under this spirit of adhering to principles can we truly become individuals or organizations of value and meaning.

Peristiwa pembunuhan Chen Chengzi terhadap Adipati Jian mendorong kita untuk merenungkan apakah kita setia pada prinsip dan nilai-nilai kita. Terlepas dari kesulitan yang mungkin kita hadapi, bahkan jika kita menghadapi perlawanan, seperti Konfusius, kita harus mematuhi prinsip-prinsip kita dan bertindak atas nama keadilan dan jalan yang benar. Berpegang teguh pada prinsip-prinsip paling mendasar tidak hanya demi hati nurani dan perilaku moral kita sendiri, namun juga demi stabilitas dan kemajuan masyarakat. Hanya dengan semangat berpegang pada prinsip inilah kita dapat benar-benar menjadi individu atau organisasi yang bernilai dan bermakna.

 

Chen Chengzi membunuh Pangeran Jian dari Negeri Cee. Nabi Khongcu setelah mandi dan keramas lalu pergi ke istana memberi laporan kepada Pangeran Ai: “Tien Hing telah membunuh rajanya. Mohon tindakan untuk menghukumnya.” Pangeran Ai menjawab: “Beritahukanlah kepada tiga Keluarga Besar itu” (Setelah keluar) Nabi Khongcu bersabda: “Karena Aku pernah menjadi menteri, maka tidak berani tidak memberi laporan, tetapi Pangeran berkata supaya dilaporkan kepada tiga Keluarga Besar itu.” Beliau memberi laporan kepada tiga Keluarga Besar itu, tetapi mereka tidak menyetujuinya. Nabi Khongcu bersabda: “Aku pernah menjadi menteri, maka tidak berani tidak memberi laporan.”

Chen Cheng murdered the duke Jian of Qi. Confucius bathed, went to court and informed the duke Ai saying: “Chen Heng has slain his sovereign. I beg that you will undertake to punish him.” The duke said: “Inform the chiefs of the three families of it.” Confucius retired, and said: “Following in the rear of the great officers, I did not dare not to represent such a matter, and my prince says: ‘Inform the chiefs of the three families of it.'” He went to the chiefs, and informed them, but they would not act. Confucius then said: “Following in the rear of the great officers, I did not dare not to represent such a matter.”

 

(论语宪问第十四Lun Yu 14.22)

 

坚守最根本的原则

 

“陈成子弑简公”是春秋时期的一件大事,当时齐国的权臣陈恒把自己的国君给杀掉了。孔子把礼制看得比性命还重要,对这种以下犯上、残忍僭越的行为异常愤慨。所以在听到这件事后,还是前去求见鲁哀公,请他出兵讨伐陈恒,以匡正义。但是当时鲁哀公也是有名无实,所有权力都掌握在三桓手中,就让他去找这几位大夫。孔子又去请三桓发兵,结果被他们拒绝了。孔子很无奈,只好自我安慰,表示自己对这件事尽心了。

 

孔子的“请讨”,固然是为了尊君、正名,维护君臣大义,但他更具体的目的一是警醒鲁哀公,一是警醒季氏三家。他想通过此事提醒鲁哀公,如果任由季氏势力发展下去,迟早有一天,三桓也会像陈成子一样做出以下犯上的事情来。向季氏三家的报告,意在提醒季氏,你们身为臣子却不守臣礼,如果一意孤行,那么将来也会落得被诸国讨伐的下场。但可悲的是,他的意愿并未受到重视,他的警醒也没有起到任何作用。

 

虽然如此,孔子这种对最根本的原则的坚守,仍有着重要价值。他提醒我们,不论是在什么情况下,社会上都应该有一个根本性的原则,而且这个原则是不可违背的,必须坚守。就当时来说,君臣之道就是不能违背的根本性原则。如果这个原则丧失,国将不国,一切都将陷入可怕的混乱。正因为如此,孔子才执着地请求讨伐陈成子。

 

古往今来,坚守原则的人总是能够得到众人尊敬的,不管他们最后能否获得成功。伯夷、叔齐是商末孤竹国国君的两个儿子。因为想把国君之位让给对方,他们都从宫中逃出来。当时,西方的周文王广招天下贤士,伯夷、叔齐兄弟二人听说后,便前往投奔。可是,还没等他们到达,周文王就死了。文王死后,继位的武王扩充兵力,用车装着周文王的灵牌东进伐纣。伯夷、叔齐听闻,拦马劝谏,说:“父死不葬,乃动干戈,可谓孝吗?以臣弑君,可谓仁吗?”武王身边的随从听到二人指责武王,拔剑想杀掉他们。姜太公说:“此乃义人。”就让手下扶持二人离去。武王灭商以后,天下归周,伯夷、叔齐认为武王以臣犯君可耻,就立志不食周朝的粮食,到首阳山隐居起来,采薇为食,维持生存。一位妇人看到他们采薇为食后说,这薇菜也是在周朝土地上生长的呀!二人听罢,决定绝食等死。临死之际,他们还作了一支歌:“登彼西山兮,采其薇矣。以暴易暴兮,不知其非矣;神农、虞、夏,忽焉没兮,我安适归矣?于嗟徂兮,命之衰矣!”

 

伯夷、叔齐耻食周粟,饿死首阳山,虽然饥寒寂寞,却依然操守不改,这一佳话千古流传。一个朝代代替另一个朝代,多半是先进替代落后,因此,很多人对伯夷、叔齐二人的坚守不理解。其实,二人坚守的并不是落后的商王朝,而是一种根本原则。他们的做法,和孔子所坚守的如出一辙。毋庸置疑,这是一种伟大的精神。

 

不论是组织还是个人,必须要坚守最根本的原则。不论什么时候,不论发生什么事情,这个基本原则不能丢掉。如果丢了这个根本原则,就会导致个人的失败或者组织的失败。在现代社会,人们受到的干扰和诱惑越来越多,就更需要有坚守原则的精神。否则,一旦放弃原则,就没有了约束自己的准绳,如果人人如此,整个社会都将陷入混乱之中。

 

孔子在尽职尽责,明明知道不可为,也要为之,这是孔子的厉害之处。犹如孔子入太庙,每件事都要问,别人嘲笑他这个人不

 

陈成子弑简公。孔子沐浴而朝,告于哀公曰:“陈恒弑其君,请讨之。”公曰:“告夫三子!”孔子曰:“以吾从大夫之后,不敢不告也。君曰‘告夫三子’者。”之三子告,不可。孔子曰:“以吾从大夫之后,不敢不告也。”

 

(论语宪问第十四Lun Yu 14.22)

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Gambar:  AI Generated Image

Butuh bantuan?