SAYA AKAN LAWAN! – Sebuah Strategi untuk Melawan Matinya Kepakaran

Home » Artikel » SAYA AKAN LAWAN! – Sebuah Strategi untuk Melawan Matinya Kepakaran

Dilihat

Dilihat : 45 Kali

Pengunjung

  • 3
  • 106
  • 571
  • 278,633
Pic 4 Saya Akan Lawan

Oleh: Arya Karniawan

 

Masih terasa segar di pikiran ketika saya melihat perdebatan sengit antara seorang pakar sejati dengan seorang ‘pakar-pakaran’. Hari itu seperti biasanya, saya menghabiskan waktu sejenak untuk membuka sosial media saya. Tiba-tiba saya melihat post teman saya yang mengeluh bertapa pansosnya suatu fanpage Buddhis tertentu, sebut saja FP ‘Y’. Beliau bahkan mengkritik bagaimana “kelakuan” admin fanpage tersebut yang berdebat dengan admin fanpage lain, sebut saja FP ‘X’ yang sudah menjadi rahasia umum bahwa sang admin adalah seorang Bhikkhu terpelajar.

Saya pun merasa penasaran dan langsung menuju ke TKP di media sosial yang lain. Saya mengamati dengan saksama debat kusir yang terjadi. Terlihat jelas bagaimana X dengan terampil memberikan tesisnya dengan data-data dan cara penyampaian yang baik. Sebaliknya, respon yang diberikan admin Y bernada ofensif dengan ciri-ciri tulisan khas AI. Pada akhirnya, perdebatan terhenti akibat X menarik diri, semata-mata untuk menghindari debat kusir. Hal ini seketika membuat saya termenung, bagaimana bisa tesis yang telah dibangun dengan sangat baik oleh seseorang yang memang ahli di bidang tersebut, dan sama sekali tidak ditujukan untuk menyerang, justru ditolak mentah-mentah dengan jawaban AI bernada ofensif oleh seorang admin fanpage Buddhis yang seharusnya mengedepankan etika Dhammakatthika?

Fenomena ini seketika mengingatkan saya bahwa kita sudah masuk ke era di mana matinya kepakaran sedang terjadi. Adapun cirinya adalah maraknya orang-orang sok tahu yang bermunculan dan mendapat panggung di media sosial. Akibat mereka diberi panggung, diberi spotlight, maka masyarakat menjadi lebih percaya pada orang-orang sok tahu itu daripada ahli sesungguhnya (Karniawan, 2025). Kita dapat melihat bagaimana media sosial begitu berperan dalam pembentukan informasi sampah dari para ‘ahli-ahlian’ ini. Tata letaknya memampang jelas gambar dan tulisan yang menjadi postingan sementara section komentar dibuat kecil, tersembunyi, dan bertumpuk-tumpuk dengan komentar-komentar dari pengguna lain. Hal ini tentu membuat para ‘ahli-ahlian’ itu dengan mudahnya menggaet atensi dari para netizen dan memiliki influence yang besar, jauh daripada ahli yang sebenarnya.

Karena ekosistemnya sendiri yang sangat tidak mendukung, tidak heran jika terdapat ahli dalam satu bidang tertentu yang kalah suara dari para ‘ahli-ahlian’ itu. Lantas, bagaimana caranya agar seorang ahli dapat melakukan perlawanan terhadap para ahli gadungan ini di tengah ekosistem yang tidak mendukung? Sebelum melakukan perlawanan, kita perlu tahu bagaimana para ‘ahli gadungan’ ini bekerja. Karena seperti yang dikatakan oleh Sun Tzu, ketika kita mengetahui diri sendiri dan musuh kita, maka kita dapat memenangkan setiap pertarungan (Brainy Quotes, 2026).

Jika kita melihat, kebanyakan ‘ahli-ahlian’ ini seolah memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Rasa pede yang terlalu tinggi itu sendiri terjadi akibat fenomena Dunning Kruger effect, yaitu penilaian diri yang berlebihan akibat kurangnya penguasaan pengetahuan (Karniawan, 2025). Yang mana dalam konteks ini adalah sebagai akibat dari penggunaan AI. AI sendiri memberikan jawaban yang logis dan terperinci, karena jawabannya seakan kritis, hal ini menciptakan rasa kepercayaan diri terhadap penggunanya. Walaupun demikian, AI sendiri sering melakukan bias ataupun blunder dalam memberikan jawaban. Selain itu juga, batasan terjauh pengetahuan AI adalah apa yang terdapat di internet dan seberapa seringnya hal tersebut dibahas. Masih sangat banyak hal-hal yang jarang dibahas bahkan tidak terdapat di internet. Inilah bagaimana cara AI sendiri bekerja.

Dengan memahami bagaimana AI bekerja, kita kembali ke kasus di mana sang ahli berdebat dengan ahli gadungan. Ketika sang ahli memberikan balasan dengan data-data yang lengkap, hal ini seperti menyiram bensin ke api. Dengan demikian, AI memiliki data-data yang jauh lebih holistik dan dapat menggunakan data-data yang diberikan sebagai alibi dengan analisa-analisa yang panjang dan semakin sulit dicari celahnya. Lantas, bagaimana cara yang benar untuk melawan ahli gadungan yang menggunakan AI ini?

Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan prinsip fenomenologi. Fenomenologi sendiri dilakukan dengan cara menunda pendapat (epoche) hingga tahap penunjukkan data (eiditik) (Dhavamony, 1995:6). Kita dapat menggunakan prinsip yang sama ketika berhadapan dengan ahli gadungan. Jangan terburu-buru dalam menyampaikan jawaban secara holistik, cukup berikan sedikit petunjuk bagi mereka. Petunjuk itu harus menegaskan bahwa kita tahu dan menguasai topik yang sedang dibicarakan. Setelahnya, kita hanya perlu memberikan waktu hingga fakta menampakkan dirinya. Bagi mereka yang mengandalkan AI, AI tidak akan membuka celah kesalahan jawabannya dan biasanya akan bersikukuh atas jawaban yang diberikan. Dari sinilah jawaban AI benar-benar tidak dapat diandalkan oleh ahli gadungan. Ia pun harus menunjukkan wujud aslinya (wezen), sebagai orang biasa yang tidak memahami bidang tersebut, atau bersikukuh dengan jawaban generatif AI yang pada akhirnya akan dapat dipatahkan dengan mudah. Semakin panjang perdebatan tersebut dan semakin lama pembahasan topik itu, akan semakin menyakitkan dampak yang dirasakan ahli gadungan itu.

Pada akhirnya perdebatan itu bukan bertujuan untuk menyakiti perasaan, melainkan semata-mata untuk menunjukkan dominasi atas penguasaan topik dan membuka cakrawala masyarakat luas, bahwasanya ahli sejati adalah mereka yang benar-benar mempelajari suatu bidang hingga batas ilmu pengetahuannya (State of Art), bukan orang biasa yang hanya tahu cara membuat prompt di AI.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Referensi

Brainy Quotes. 2026. Know thy self, know thy enemy. A thousand battles, a thousand victories Sun Tzu. https://www.brainyquote.com/quotes/sun_tzu_384112. Diakses pada 18 Juni 2026 10.08 WIB.

Dhavamony, Mariasusai. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta. PENERBIT KANISIUS.

Karniawan, Majaputera. 2025. Matinya Kepakaran dan Matinya Pengarang Dalam Permainan Bebas Tanda. https://setangkaidupa.com/artikel/matinya-kepakaran-dan-matinya-pengarang-dalam-permainan-bebas-tanda/. Diakses pada 17 Juni 2026 09.35 WIB.

Gambar: ©Osama Hajjaj (Facebook Page).

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?